Bolehkah Menghina Wabah Covid-19 dengan Kata-Kata Kasar?

Bolehkah Menghina Wabah Covid-19 dengan Kata-Kata Kasar?

 

Bolehkah Menghina Wabah Covid-19 dengan Kata-Kata Kasar?
pixbay

LightsIslam - Pandemi Covid-19 sudah melumpuhkan ekonomi dunia dan juta-an nyawa melayang-layang lewat penyebabnya. Beberapa ada yang berasa benar-benar marah dengan wabah ini. Hingga nampaklah ucapan-ucapan serapah atau ejekan ke virus ini. Dalam Islam, rupanya hal sedetil ini sudah ditata. Memperlihatkan ke manusia jika Islam ialah agama yang paling junjung tinggi norma atau adat.

Dari teman dekat Jabir bin Abdillah Radhiyallahu'anhu, beliau menceritakan,

"Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam masuk ke rumah Ummu Saib atau Ummu Musayyib, selanjutnya beliau menanyakan,

"Kenapa kamu menggigil, ya Ummu Saib?"

الحمى لا بارك الله فيها

“Sakit panas, semoga Allah tidak memberkahinya.” Jawab Ummu Saib.


Beliau Shalallahu ‘alaihi wasallam lantas bersabda,

لا تسبي الحمى فإنها تذهب خطايا بني آدم كما يذهب الكير خبث الحديد


“Janganlah kamu mencela penyakit panas. Karena sesungguhnya dia dapat menghilangkan dosa-dosa anak cucu Adam sebagaimana tiupan api pandai besi dapat menghilangkan karat-karat besi” (HR. Muslim).

Hadis di atas memperlihatkan larangan mencemooh penyakit, terhitung dalam masalah ini ialah pandemi Covid-19. Kenapa hal itu dapat dilarang?

Pertama, ada keberkahan dibalik penyakit.

Sama seperti yang diberitakan pada hadis di atas, penyakit demam bisa menggugurkan dosa. Tidak cuma demam, bahkan juga semua penyakit dan bencana menjadi karena penggugur dosa. Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

ما أصاب المسلم من همٍّ ولا غم ولا نصب ولا وصب ولا حزن ولا أذى إلا كفَّر الله به من خطاياه حتى الشوكة يشاكها

“Semua kecemasan, kegalauan, rasa capek, sakit, kesedihan, dan gangguan yang dialami oleh seorang muslim, sampai-sampai duri yang menusuk kakinya adalah penyebab Allah akan menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari, dari sahabat Abu Sa’id Al-Khudri Radhiyallahu ‘anhu).

Kedua, ada kesemapatan

Arah dari ada bencana dan penyakit ialah memberikan kesempatan ke beberapa orang mukmin supaya mempraktikkan sabar, yang pahalanya tanpa batasan (saksikan Quran surat Az-Zumar ayat 10). Berikut perintah Allah Ta'ala dan Rasul-Nya. Mencemooh penyakit benar-benar berlawanan dengan arah ini.

Ketiga, adanya takdir

Pandemi ini ialah sisi dari takdir Allah. Karena itu mengejeknya, sama juga mengejek takdir Allah. Dan itu dosa besar

Tindakan seperti itu bisa berhadapan dengan hadis yang mulia ini,

إن عظم الجزاء مع عظم البلاء ، وإن الله تعالى إذا أحب قوما ابتلاهم، فمن رضي فله الرضا، ومن سخط فله السخط


“Sesungguhnya besarnya ganjaran itu sesuai besarnya ujian. Dan sungguh bila Allah Ta’ala mencintai suatu kaum, maka Allah akan mengujinya. Siapa yang rida akan ujian itu, maka baginya keridaan Allah. Dan siapa yang marah atau benci terhadap ujian itu, maka baginya kebencian Allah” (HR. Tirmidzi, beliau menilai hadis ini Hasan).

Syekh Muhammad bin Sholih Al-‘Utsaimin Rahimahullah pernah ditanya tentang hukum ucapan, “Semoga Allah melaknat penyakit ini. Ia telah membuatku tak bisa apa-apa.”

Beliau Rahimahullah menjawab,

وأما من يلعن المرض وما أصابه من فعل الله عز وجل فهذا من أعظم القبائح – والعياذ بالله – لأن لعنه للمرض الذي هو من تقدير الله تعالى بمنزلة سب الله عزوجل فعلى من قال مثل هذه الكلمة أن يتوب إلى الله، وأن يرجع إلى دينه، وأن يعلم أن المرض بتقدير الله، وأن ما أصابه من مصيبة فهو بما كسبت يده، وما ظلمه الله، ولكن كان هو الظالم لنفسه


“Mencela penyakit atau musibah, yang itu terjadi atas perbuatan Allah Azza wa jalla, adalah dosa yang paling besar -semoga Allah melindungi dari dosa seperti ini-. Karena celaannya kepada penyakit, yang itu terjadi karena perbuatan Allah, itu sama dengan mencela Allah Azza wa jalla. Oleh karena itu, siapa saja yang pernah mencela penyakit atau musibah, hendaklah bertaubat kepada Allah, kembalilah kepada ajaran agama, serta meyakini bahwa musibah yang menimpanya adalah karena sebab dosanya. Allah sama sekali tidak zalim, namun ia sendiri yang menzolimi dirinya” (Majmu’ Fatawa War Rosa-il As-Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin 3/126, fatwa nomor 492).

Keempat,  kecaman tidak akan mengganti nasib.

Apa dengan ucapkan "Corona b*ngs*t." "corona anj**g," virus ini akan mati? Wabah akan usai? Kan tidak!

Maka, tidak ada gunanya ucapan-ucapan serapah seperti itu. Malah akan mengisi jiwa dengan kemarahan, yang malah berdampak tidak baik bagi kesehatan.

Bukankah Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam pernah mengatakan,

إِنِّي لَمْ أُبْعَثْ لَعَّانًا وَإِنَّمَا بُعِثْتُ رَحْمَةً


“Sesungguhnya aku tidak diutus sebagai tukang melaknat, sesungguhnya aku diutus hanya sebagai rahmat.”

Beliau juga bersabda,

مِنْ حُسْنِ إسْلَامِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لَا يَعْنِيْهِ


“Di antara tanda baiknya kualitas Islam seseorang  adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat baginya” (HR. Tirmidzi).


Karena itu dibanding mengejek, mending berdoa yang baik, supaya badai ini selekasnya berakhir, mudah-mudahan wabah ini usai, yang sakit sembuh Allah, yang tidak sakit dijaga Allah. Itu lebih berguna, bermanfaat, dan datangkan energi yang positif.

Wallahul muwaffiq.

To Top