Kisah Kesabaran dan Keteguhan Yang Besar Berbuah Kebaikan Serta Nikmat Tiada Tara

Kisah Kesabaran dan Keteguhan Yang Besar Berbuah Kebaikan Serta Nikmat Tiada Tara

Lightsislam - Seandainya kata seorang mempunyai kesabaran dan keteguhan, ia akan cepat memperoleh jalan keluar bencana dan akan dekat ke kebahagiaan.

Diceritakan seorang sekretaris namanya Abu Ayub pernah dipenjara sepanjang 15 tahun. Ia pernah berputus harapan dalam cari jalan keluar. Selanjutnya, ia menulis surat ke rekan berisi keluh kesah lama waktunya penahanan dan semakin menyusutnya kesabaran.

Rupanya, dia mendapat jawabnya seperti berikut, Wahai Abu Ayub, bersabarlah kamu dengan kesabaran yang bisa hilangkan kesengsaraan. Bila kamu kurang kuat dalam hadapi bencana itu karena itu siapa yang bisa menghilangkan?

Sebenarnya, orang yang sudah membuat pengikat karena itu ia akan mengikatnya dengan ikatan kedengkian, karena itu kamu bisa mengakalinya. Bersabarlah kamu karena kesabaran itu bisa memberinya ketenangan. Semoga, bencana itu selekasnya usai.

Seterusnya, Abu Ayub menjawab balasan surat itu sambil berbicara, Kamu menyuruhku bersabar, walau sebenarnya saya sudah melakukan, dan memberi tahuku (dengan menjelaskan) mudahmudahan bencana itu selekasnya usai, walau sebenarnya saya tidak menjelaskan semoga. Dan ia tempatkan pemilik ikatan bencana (orang yang ditahan) pada lokasi yang mulia karena ia bisa mengakalinya.

Beberapa temannya berbicara, Sesudah peristiwa itu, Abu Ayub ting gal dalam penjara cuman sehari, selanjutnya ia dibebaskan secara terhormat. Ia kembali hidup bersama beberapa orang dekatnya sesudah berusaha susah payah mengendalikan diri hadapi masalah.

Kisah Kesabaran dan Keteguhan Yang Besar Berbuah Kebaikan Serta Nikmat Tiada Tara

Kisah Kesabaran dan Keteguhan Yang Besar Berbuah Kebaikan Serta Nikmat Tiada Tara
pixabay.com

Adalagi cerita lain sekitar kesabaran

Diriwayatkan, dulu ada seorang lelaki yang tinggal di pedalaman Arab. Orang ini mempunyai satu ekor ayam, keledai, dan anjing yang paling menolong dan bermanfaat dalam kehidupannya.

Ayam jantan menggugahnya untuk shalat Subuh, keledai menolongnya mengusung beberapa barang bawaan dan anjing mengawasinya dari gang guan beberapa orang jahat.

Di suatu hari hadirlah serigala memakan ayam jantannya. Orang ini benar-benar bersedih dengan kematian ayam kecintaannya itu. Tetapi, karena patuh ke Allah, dia berbicara, Mudah-mudahan keja dian ini jadi kebaikan.

Sekian hari selanjutnya, serigala itu tiba kembali dan memakan keledainya. Dia juga berduka hati karena tidak lagi ada binatang yang bakal menolongnya bawa barangbarang.

Tetapi, dia berbicara, Mudah-mudahan peristiwa ini jadi kebaikan.

Sekian hari selanjutnya, anjing ke sayangannya juga mati hingga mem buat dia semakin berduka hati. Tetapi, dia tetap menjelaskan dengan penuh kesabaran, Mudah-mudahan peristiwa ini jadi kebaikan.

Sesudah peristiwa yang membuat bersedih hati itu berakhir beberapa saat, saat dia bangun di suatu pagi, dia terkejut karena menyaksikan beberapa orang di sekitarnya sudah ditahan. Yang masih ada hanya dia dan keluarganya.

Rupanya, mereka ditahan karena mempunyai binatang-binatang piaraan yang selalu memunculkan kerusuhan.

Saat itu, dia dan keluarganya selamat karena ayam, keledai, dan anjing yang awalnya jadi punya nya sudah tidak ada dimakan serigala. Ke matian binatang-binatang itu sudah jadi satu kebaikan untuknya sesuai yang sudah ditakdirkan Allah.

Kesabaran yang Luar Biasa

Ibnu Hibban meriwayatkan dalam kitab "Ats-Tsiqat" cerita ini. Ia ialah imam besar, Abu Qilabah Al-Jurmy Abdullah bin Yazid dan terhitung dari perawi-perawi yang meriwayatkan dari Anas bin malik. Dan yang meriwayatkan cerita ini ialah Abdullah bin Muhammad. Berikut ceritanya :

Saya keluar untuk jaga tepian di Uraisy Mesir. Saat saya jalan, saya melalui sebuah perkemahan dan saya dengar seorang berdoa,

"Ya Allah, anugerahkan saya ilham untuk selalu mensyukuri nikmatMu yang sudah kamu anugerahkan kepadaku dan ke ke-2 orangtuaku dan supaya saya kerjakan kebijakan yang Kamu ridloi. Dan masukanlah saya dalam rahmatMu ke kelompok hamba-hambaMu yang shalih." (QS. An-Naml: 19).

Saya menyaksikan orang yang berdoa itu, rupanya dia sedang terkena bencana. Ia sudah kehilangan ke-2 tangan dan ke-2 kakinya, matanya buta dan kurang pendengarannya. Beliau kehilangan anaknya, yang umum menolongnya berwudhu dan memberikan makan…

Lalu saya menghampirinya dan berbicara padanya, "Wahai hamba Allah, benar-benar saya sudah dengar doamu barusan, ada apakah kiranya?"

Selanjutnya orang itu berbicara, "Wahai hamba Allah. Untuk Allah, andaikan Allah mengirimi gunung-gunung dan memusnahkanku dan laut-laut menenggelamkanku, tidak ada yang melewati nikmat Tuhanku dibanding lisan yang berzikir ini." Selanjutnya ia berbicara, "Benar-benar, telah tiga ini hari saya kehilangan anakku. Apa kamu siap menelusurinya bagiku? (Anaknya berikut yang umum menolongnya berwudhu dan memberikan makan)

Karena itu saya berbicara padanya, "Untuk Allah, tidak ada yang paling utama untuk seorang yang usaha penuhi keperluan seseorang, terkecuali penuhi keperluanmu." Selanjutnya, saya wafatkannya untuk cari anaknya. Tidak jauh sesudah jalan, saya menyaksikan tulang-tulang berantakan antara bukit pasir. Dan rupanya anaknya sudah dimakan binatang buas. Lantas saya stop dan berbicara dalam hati, "Bagaimana caraku kembali ke temanku, dan apa yang bakal saya ucapkan kepadanya dengan peristiwa ini? Saya mulai berpikiran. Karena itu, saya terpikir cerita Nabi Ayyub ‘alaihis salam.

Sesudah saya kembali, saya memberikan salam padanya.

Ia berbicara, "Tidakkah kamu temanku?"

Saya ucapkan, "Betul."

Ia menanyakan kembali, "Apa yang sejauh ini ditangani anakku?"

Saya berbicara, "Apa kamu ingat cerita Nabi Ayyub?"

Ia menjawab, "Ya."

Saya berbicara, "Apa yang Allah lakukan dengannya?"

Ia berbicara, "Allah mengetes dianya dan hartanya."

Saya ucapkan, "Bagaimana ia menanggapinya?"

Ia berbicara, "Ayyub bersabar."

Saya ucapkan, "Apa Allah mengetesnya cukup hanya itu?"

Ia menjawab, "Bahkan juga famili yang dekat dan yang jauh menampik dan wafatkannya."

Lalu saya berbicara, "Bagaimana ia menanggapinya?"

Ia berbicara, "Ia masih tetap sabar. Wahai hamba Allah, sebetulnya apa yang kamu harapkan?"

Lalu saya berbicara, "Anakmu sudah wafat, saya memperolehnya sudah dimakan binatang buas antara bukit pasir."

Ia berbicara, "Semua puji untuk Allah yang tidak membuat dariku turunan yang bisa menjerumuskan ke neraka."

Lalu ia menarik napas sekali dan ruhnya keluar.

Saya duduk pada kondisi kebingungan apa yang kulakukan, bila saya meninggalkan, ia akan dimakan binatang buas. Bila saya masih tetap ada disebelahnya, saya tidak bisa melakukan perbuatan apapun. Saat pada kondisi itu, mendadak ada gerombolan pencuri mencatatngiku.

Beberapa pencuri itu berbicara, "Apa yang terjadi?" Karena itu saya katakan apa yang terjadi. Mereka berbicara, "Bukakan mukanya ke kami!" Karena itu saya buka mukanya, lalu mereka memiringkannya dan dekatinya sambil berbicara, "Untuk Allah, Ayahku sebagai pelunasannya, saya meredam mataku dari yang diharamkan Allah dan untuk Allah, ayahku sebagai pelunasannya, badan orang ini memperlihatkan jika ia ialah orang yang sabar dalam hadapi bencana."

Lalu kami memandikannya, mengafaninya dan memendamnya. Selanjutnya, saya kembali lagi ke tepian. Lantas, saya tidur dan saya menyaksikannya dalam mimpi, beliau keadaannya sehat. Saya berbicara padanya, "Tidakkah kamu teman dekatku?" Ia berbicara," Betul." Saya berbicara, "Apa yang Allah kerjakan padamu?" Ia berbicara, "Allah sudah memasukkanku ke surga dan berbicara kepadaku, ‘Keselamatan atasmu karena kesabaranmu.'" (QS. Ar-Ra'd: 24). "Ingat-ingatlah, cukup dengan memperingati Allah-lah hati jadi damai." (QS. Ar-Ra'd: 28).

Begitulah cerita Islami yang bertemakan Kesabaran dan Keteguhan, Semoga terhibur

 

Posting Komentar

0 Komentar

To Top