Adab Bepergian Dalam Islam

Adab Bepergian Dalam Islam

Adab Bepergian

Lights Islam - Rasulullah SAW mengatakan jika melancong atau safar sebagai sisi siksaan. Dari sisi risiko lapar, dahaga, dan kurang istirahat, di diperjalanan ada risiko kecelakaan yang bisa mengakibatkan cedera atau bahkan juga wafat. Oleh karenanya, seorang muslim harus menyiapkan diri dengan sebagus-baiknya dan jadikan tiap kepergiannya sebagai sisi dari amal saleh.

Bekerja, menjalankan bisnis, berdakwah, belajar, belanja untuk kepentingan keluarga, ber-silaturrahim atau bertandang ke rumah teman dekat, membantu seseorang, melaksanakan ibadah ke mushola, haji dan umrah ialah melancong yang termasuk amal saleh sejauh dengan niat yang betul. Seorang muslim harus menghindar melancong untuk lakukan maksiat.

Perubahan alat transportasi yang terjadi sekarang ini memungkinkannya orang makin banyak melancong dibanding dengan periode kemarin. Ada alat transportasi super cepat memungkinkannya perjalanan yang dulu memakan waktu beberapa bulan, sekarang bisa dilakukan cuman dalam beberapa saat. Pergi haji ke tanah suci misalkan, sekarang dapat dilakukan dengan pesawat terbang cuman dalam kurun waktu 11 jam dari tanah air. Walau sebenarnya, dulu pergi haji ke tanah suci dilaksanakan dengan kapal laut dan memakan waktu beberapa bulan.

Oleh karenanya, supaya perjalanan yang sudah dilakukan berharga sebagai amal saleh, karena itu kita perlu melakukannya sama sesuai adat Islam. Tulisan ini menyengaja diatur sebagai bimbingan adat melancong untuk seluruh seorang muslim. Sebagai bimbingan, tulisan ini akan mengurai beberapa adat, salah satunya mendekati keberangkatan, saat keluar dari rumah, dalam kendaraan, sepanjang diperjalanan, selekasnya kembali sesudah usai masalah, dan saat kembali.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ السَّفَرُ قِطْعَةٌ مِنْ الْعَذَابِ يَمْنَعُ أَحَدَكُمْ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ وَنَوْمَهُ فَإِذَا قَضَى نَهْمَتَهُ فَلْيُعَجِّلْ إِلَى أَهْلِهِ

Dari Abu Hurairah RA dari Nabi SAW bersabda: “Bepergian (safar) itu adalah sebagian dari siksaan yang menghalangi seseorang dari kalian dari makan, minum dan tidurnya. Maka apabila dia telah selesai dari urusannya, hendaklah dia segera kembali kepada keluarganya” [HR. Bukhari, HN 1677].

Mendekati Keberangkatan Shalat Safar

Jika akan melancong sebaiknya melakukan shalat safar 2 raka'at.

Berdasar hadits dari Ibnu Mas'ud, pernah tiba seorang lelaki ke Rasulullah SAW dan berbicara: "Ya Rasulullah, saya akan ke Bahrain untuk masalah dagang". Lantas Rasulullah memerintah orang itu: "Pergilah shalat 2 raka'at" [HR. Thabrani dalam al-Kabir].

Hadits dari Mukmin bin Miqdad bercerita jika Rasulullah SAW pernah berbicara: "Tidak suatu hal yang paling khusus untuk seorang yang akan tinggalkan suatu hal pada keluarganya melewati shalat 2 raka'at yang di tengah-tengah mereka jika dia akan melancong" [HR Thabrani].

Demikian juga saat pulang dari melancong, sebaiknya melakukan shalat 2 raka'at di mushola saat sebelum duduk. Hadits Jabir bin Abdullah menjelaskan jika pernah saya bersama Rasulullah diperjalanan. Lantas setiba kami (kembali) di Madinah, Beliau berbicara: "masuk ke mushola dan lakukan shalat 2 raka'at [HR. Bukhari dan Muslim].

Berpamitan

Apabila hendak bepergian, maka berpamitanlah dengan seisi rumah agar kepergian Anda mereka ketahui. Anda dapat berdoa untuk mereka, dan begitu pula sebaliknya.

عَنْ مُوسَى بْنِ وَرْدَانَ قَالَ قَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ لِرَجُلٍ تَعَالَ أُوَدِّعْكَ كَمَا وَدَّعَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْ كَمَا وَدَّعَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اسْتَوْدَعْتُكَ اللَّهَ الَّذِي لَا يُضَيِّعُ وَدَائِعَهُ

Dari Musa bin Wardan berkata; Abu Hurairah berkata kepada seorang laki-laki: “Kemarilah, saya akan mengucapkan selamat tinggal (berpamitan) kepadamu sebagaimana Rasulullah SAW mengucapkan selamat tinggal kepadaku, atau sebagaimana Rasulullah SAW mengucapkan selamat tinggal; aku titipkan engkau kepada Allah yang tidak menyia-nyiakan titipan-Nya”

Di samping mengucapkan kata-kata pamitan, hendaklah berjabat tangan dan mengucapkan salam. Rasulullah SAW bersabda:


تَصَافَحُوا يَذْهَبْ الْغِلُّ


“Hendaklah kalian saling berjabat tangan, niscaya akan hilanglah kedengkian” [HR. Malik dari ‘Atha bin Abu Muslim Abdullah al- Khurasani berkata].


مِنْ تَمَامِ التَّحِيَّةِ الْأَخْذُ بِالْيَدِ


“Termasuk kesempurnaan penghormatan adalah berjabat tangan” [HR. Tirmidzi dari Ibnu Mas’ud].

Ucapan salam ketika berpisah dengan keluarga adalah:


ألَسلامُ عليكم ورحمةُ الله وبركاتُهُ


“Semoga keselamatan tetap atas kamu, demikian pula rahmat Allah dan barakah-Nya”.

Berjabat tangan dan mengucapkan salam merupakan bentuk penghormatan kepada keluarga yang ditinggalkan. Hal ini akan memberikan perasaan nyaman bagi kedua belah pihak.

Saat Keluar Rumah

Pada saat keluar rumah, hendaklah bertawakal kepada Allah SWT dengan mengucapkan:


بِسْمِ اللَّهِ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ


“Dengan nama Allah, aku bertawakal kepada Allah, tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan izin Allah”

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا خَرَجَ الرَّجُلُ مِنْ بَيْتِهِ فَقَالَ بِسْمِ اللَّهِ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ قَالَ يُقَالُ حِينَئِذٍ هُدِيتَ وَكُفِيتَ وَوُقِيتَ فَتَتَنَحَّى لَهُ الشَّيَاطِينُ فَيَقُولُ لَهُ شَيْطَانٌ آخَرُ كَيْفَ لَكَ بِرَجُلٍ قَدْ هُدِيَ وَكُفِيَ وَوُقِيَ


dari Anas bin Malik bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jika seorang laki-laki keluar dari rumahnya lalu mengucapkan: ‘BISMILLAHI TAWAKKALTU ‘ALAALLAHI LAA HAULA WA LAA QUWWATA ILLA BILLAH (Dengan nama Allah aku bertawakal kepada Allah, tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan izin Allah). ‘ Beliau bersabda: “Maka pada saat itu akan dikatakan kepadanya, ‘Kamu telah mendapat petunjuk, telah diberi kecukupan dan mendapat penjagaan’, hingga setan-setan menjauh darinya. Lalu setan yang lainnya berkata, “Bagaimana (engkau akan mengoda) seorang laki-laki yang telah mendapat petunjuk, kecukupan dan penjagaan.” [HR. Abu Daud, HN 4431].

Di dalam Kendaraan

Duduklah di dalam kendaraan pada tempat di mana seharusnya Anda duduk. Jika sebagai pengemudi, maka Anda duduk di belakang kemudi. Jika sebagai penumpang, duduklah pada kursi Anda, dan janganlah mengambil hak tempat duduk orang lain.

Pada saat telah siap di atas kendaraan (misalnya sepeda, sepeda motor, becak, andong, mobil, kereta api, pesawat terbang, dan kapal) hendaklah bertakbir 3 kali dan berdoa:

سُبْحَانَ الَّذِي سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِينَ وَإِنَّا إِلَى رَبِّنَا لَمُنْقَلِبُونَ اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ فِي سَفَرِنَا هَذَا الْبِرَّ وَالتَّقْوَى وَمِنْ الْعَمَلِ مَا تَرْضَى اللَّهُمَّ هَوِّنْ عَلَيْنَا سَفَرَنَا هَذَا وَاطْوِ عَنَّا بُعْدَهُ اللَّهُمَّ أَنْتَ الصَّاحِبُ فِي السَّفَرِ وَالْخَلِيفَةُ فِي الْأَهْلِ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ وَعْثَاءِ السَّفَرِ وَكَآبَةِ الْمَنْظَرِ وَسُوءِ الْمُنْقَلَبِ فِي الْمَالِ وَالْأَهْلِ


“Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kebaikan dan takwa dalam perjalanan ini, kami mohon perbuatan yang Engkau ridhai. Ya Allah, permudahkanlah perjalanan kami ini, dan dekatkanlah jaraknya bagi kami. Ya Allah, Engkaulah pendampingku dalam bepergian dan mengurusi keluarga. Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kelelahan dalam bepergian, pemandangan yang menyedihkan dan kepulangan yang buruk dalam harta dan keluarga” [HR. Muslim, HN 2393 dari Ibnu Umar].
Selama dalam Perjalanan

Selama dalam perjalanan, hendaklah Anda mengisi waktu tersebut dengan amalan yang baik sehingga dapat meningkatkan nilai perjalanan. Di antara amalan yang dapat dilakukan adalah berzikir, membaca al-Qur’an, membaca buku, dan berbicara baik

 Berzikir

Rasulullah SAW tidak pernah lalai dalam berzikir:


عَنْ الْأَغَرِّ الْمُزَنِيِّ وَكَانَتْ لَهُ صُحْبَةٌ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّهُ لَيُغَانُ عَلَى قَلْبِي وَإِنِّي لَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ فِي الْيَوْمِ مِائَةَ مَرَّةٍ


Dari al-Aghar al-Muzanni (salah seorang sahabat Rasulullah SAW),  Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya hatiku tidak pernah lalai dari zikir kepada Allah, susungguhnya Aku beristighfar seratus kali dalam sehari” [HR. Muslim, HN 4870].

Waktu-waktu di atas kendaraan hendaklah dimanfaatkan dengan baik untuk berzikir. Jangan dibiarkan waktu itu hilang percuma hanya untuk duduk termenung tanpa melakukan apa-apa. Padatnya lalu lintas saat ini membuat kita lebih lama berada di jalan. Berzikir adalah amalan luar biasa yang dengan mudah dapat kita lakukan dalam perjalanan, bahkan ketika sedang dalam posisi mengemudi sekalipun. Konsentrasi mengemudi tidak akan terganggu, tetapi justru menambah ketenangan hati yang pada akhirnya sangat bermanfaat dalam mengemudi.

Pilihlah zikir-zikir yang diajarkan oleh Rasulullah SAW, dan jadikanlah sebagai bagian kebiasaan Anda ketika berada di atas kendaraan.

Dari Abu Darda’, dia berkata; Rasulullah SAW bersabda kepadaku: “hendaknya kamu selalu mengucapkan:

سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ


“Maha suci Allah, dan segala pujian bagi Allah, dan tidak ada ilah kecuali Allah dan Allah Maha besar”

“Kalimat tersebut akan menggugurkan kesalahan-kesalahan sebagaimana pohon menjatuhkan dedaunannya” [HR. Ibnu Majah, HN 3803]. Dalam hadits riwayat Ahmad (HN 6191) disebutkan bahwa kalimat zikir tersebut menghapus dosa, meskipun dosanya sebanyak buih di lautan. Rasulullah juga mengajarkan setiap melewati jalanan naik, membaca اللهُ اَكْبَر (Allahu Akbar) dan melewati jalan menurun membaca سُبْحَانَ الله (subhanallah) [HR. Abu Daud].

Melaksanakan Shalat Fardhu dengan Jamak Qashar

Selama dalam perjalanan, kita melaksanakan shalat fardhu dengan cara jamak qashar, yakni shalat Dzuhur dijamak dengan Ashar menjadi 2 raka’at-2 raka’at; dan shalat Maghrib dijamak dengan Isya’, di mana shalat Maghrib tetap 3 raka’at, dan Isya’ menjadi 2 raka’at.

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ فَرَضَ اللَّهُ تَعَالَى الصَّلَاةَ عَلَى لِسَانِ نَبِيِّكُمْ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْحَضَرِ أَرْبَعًا وَفِي السَّفَرِ رَكْعَتَيْنِ وَفِي الْخَوْفِ رَكْعَةً

“Dari Ibnu Abbas, dia berkata: “Allah Ta’ala telah mewajibkan shalat lewat lisan Nabi kalian ketika menetap (tidak bepergian) sebanyak empat raka’at, di waktu bepergian dua raka’at dan dalam kondisi takut (dalam Perang) satu raka’at” [HR. Abu Daud, HN 1056].

عَنْ يَحْيَى بْنِ يَزِيدَ الْهُنَائِيِّ قَالَ سَأَلْتُ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ عَنْ قَصْرِ الصَّلَاةِ فَقَالَ أَنَسٌ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا خَرَجَ مَسِيرَةَ ثَلَاثَةِ أَمْيَالٍ أَوْ ثَلَاثَةِ فَرَاسِخَ شَكَّ شُعْبَةُ يُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ

“Dari Yahya bin Yazid al-Huna’I, dia berkata: saya bertanya kepada Anas bin Malik tentang meng-qashar shalat, maka Anas menjawab; ‘apabila Rasulullah SAW bepergian sejauh perjalanan tiga mil atau tiga farsakh –Syu’bah ragu- maka Beliau shalat dua raka’at” [HR. Abu Daud, HN 1015].

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ سَافَرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَفَرًا فَصَلَّى تِسْعَةَ عَشَرَ يَوْمًا رَكْعَتَيْنِ رَكْعَتَيْنِ قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ فَنَحْنُ نُصَلِّي فِيمَا بَيْنَنَا وَبَيْنَ تِسْعَ عَشْرَةَ رَكْعَتَيْنِ رَكْعَتَيْنِ فَإِذَا أَقَمْنَا أَكْثَرَ مِنْ ذَلِكَ صَلَّيْنَا أَرْبَعًا

Dari Ibnu Abbas, dia berkata: Rasulullah SAW melakukan safar (bepergian), kemudian Beliau melaksanakan shalat dua raka’at-dua raka’at selama sembilan belas hari. Ibnu Abbas berkata, sedangkan di antara kami melaksanakan dua raka’at-dua raka’at selama sembilan belas hari. Jika kami tinggal lebih lama dari itu, maka kami shalat empat raka’at” [HR. Tirmidzi, HN 504].

Segera Kembali Setelah Selesai Urusan

Apabila telah menyelesaikan urusan yang menjadi maksud kepergian, maka hendaklah kita bersegera pulang ke rumah. Bagi Anda yang bersekolah atau kuliah, selesainya urusan ditandai dengan berakhirnya jam belajar atau kuliah. Bagi pegawai, ditandai dengan selesainya jam kerja. Bagi pedagang, bisa menetapkan berapa lama berdagang, dan pada jam berapa ia harus pulang. Demikian pula untuk urusan-urusan yang lainnya. Begitu maksud kepergian  telah tertunaikan, maka hendaklah segera pulang.


عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ …. فَإِذَا قَضَى أَحَدُكُمْ نَهْمَتَهُ فَلْيُعَجِّلْ إِلَى أَهْلِهِ


Dari Abu Hurairah r.a., Rasulullah SAW bersabda: … apabila salah seorang dari kalian telah menyelesaikan urusan (saat bepergian), hendaklah dia segera kembali kepada keluarganya” [HR. Bukhari, HN 2779].
Saat Kembali

Pada saat kembali dan sesampainya di rumah, maka bertakbirlah sebanyak 3 kali dan membaca:


آيِبُونَ إِنْ شَاءَ اللَّهُ تَائِبُونَ عَابِدُونَ حَامِدُونَ لِرَبِّنَا سَاجِدُونَ صَدَقَ اللَّهُ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ


“Kita kembali, insya Allah sebagai hamba yang bertaubat, beribadah, memuji-Nya dan yang sujud untuk Rabb kita. Allah Maha Benar dengan janji-Nya, menolong hamba-Nya dan menghancurkan musuh-musuh-Nya” [HR. Bukhari, HN 2854 dari Abdullah RA].

Wallahu a’lam.

Posting Komentar

0 Komentar

To Top