Adab Berkunjung Dalam Islam

Adab Berkunjung Dalam Islam

Adab Berkunjung

Lights Islam - Banyak orang bertandang ke arah tempat seseorang untuk beragam kepentingan, misalnya: minta kontribusi, sampaikan undangan atau info, masalah kekeluargaan, usaha, atau ada yang sekadar ingin cari rekan berbicara. Sekalinya banyak arah, tapi niat terbaik dalam bertandang ialah karena cinta, baik yang sudah dilakukan pada saudara atau famili, dan tentu saja karena cinta ke Allah SWT. Cinta karena Allah ialah cinta yang didasari atas kepatuhan kepada-Nya pada semua kegiatan dan tata jalinan yang dibuat antara ke-2 nya. Mereka sama-sama berjumpa karena Allah. Pertemuannya berisi beberapa kegiatan yang diridhai-Nya, apabila pisah juga karena-Nya.

 عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ خَرَجَ رَجُلٌ يَزُورُ أَخًا لَهُ فِي اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ فِي قَرْيَةٍ أُخْرَى فَأَرْصَدَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ بِمَدْرَجَتِهِ مَلَكًا فَلَمَّا مَرَّ بِهِ قَالَ أَيْنَ تُرِيدُ قَالَ أُرِيدُ فُلَانًا قَالَ لِقَرَابَةٍ قَالَ لَا قَالَ فَلِنِعْمَةٍ لَهُ عِنْدَكَ تَرُبُّهَا قَالَ لَا قَالَ فَلِمَ تَأْتِيهِ قَالَ إِنِّي أُحِبُّهُ فِي اللَّهِ قَالَ فَإِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكَ أَنَّهُ يُحِبُّكَ بِحُبِّكَ إِيَّاهُ فِيهِ


Dari Abu Hurairah dari Nabi SAW, Beliau bersabda: “Ada seorang laki-laki keluar untuk menziarahi saudaranya seiman di sebuah desa lain, maka Allah mengamatinya dengan mengirimkan Malaikat. Dan tatkala Malaikat itu bertemu dengannya, Ia bertanya; ‘Ke mana kamu hendak pergi?’ Laki-laki itu menjawab; ‘Aku hendak pergi ke tempat fulan’. Malaikat bertanya; ‘Apakah karena urusan kerabat?’ Laki-laki itu menjawab; ‘Tidak’. Malaikat bertanya; ‘Lalu apa karena urusan nikmat miliknya yang kamu pelihara?’ Dia menjawab; ‘Tidak’. Malaikat bertanya; ‘Lantas ada urusan apa kamu mendatanginya?’ Laki-laki itu berkata; ‘Sesungguhnya aku mencintainya karena Allah’. Malaikat berkata; ‘Sesungguhnya Aku adalah utusan Allah kepadamu untuk memberitahukan bahwasanya Allah ‘Azza Wa Jalla mencintaimu karena kamu mencintai dia karena Allah ‘Azza Wa Jalla’ (HR. Ahmad)

Mereka yang sama-sama menyukai karena Allah membuat-Nya menyukai ke-2 nya. Allah bahkan juga akan memberinya pelindungan khusus di hari di mana tidak ada pelindungan terkecuali pelindungan-Nya, yaitu pada hari kiamat. Ini seperti disebut dalam hadits berikut:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمْ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ… وَرَجُلَانِ تَحَابَّا فِي اللَّهِ اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ


Dari Abu Hurairah dari Nabi SAW bersabda: “Ada tujuh golongan manusia yang akan mendapat naungan Allah pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya: … dua orang laki-laki yang saling mencintai karena Allah; mereka tidak bertemu kecuali karena Allah, dan berpisah karena Allah …” (HR. Bukhari).

Cinta ialah karunia paling indah yang diberi Allah ke kita. Dengan cinta, semua jadi berasa membahagiakan. Tatap muka 2 orang yang sama-sama menyukai akan jadikan momen yang menyenangkan, dan perpisahannya juga memunculkan kangen. Dalam cinta, ada hati dan semangat untuk memberinya yang terbaik. Seorang yang menyukai akan berpikiran mengenai "apa yang dapat diberi padanya?", dan bukan kebalikannya. Karena itu, menyukai ialah satu proses penting dalam merealisasikan sebagus-baik manusia, yaitu orang yang terbanyak memberinya faedah ke seseorang.

Azim Jamal dan Harvey McKinnon dalam bukunya "The Power of Giving" menerangkan jika faedah memberikan diantaranya: (1) membuat jalinan yang lebih bagus dan bisa memberinya peralihan positif untuk orang lain; (2) memberinya rasa aman, hingga secara emosional jadi lebih baik; (3) tingkatkan derajat kesehatan; (4) memberinya keuntungan keuangan untuk si pemberi; (5) menolong raih kekuatan secara maksimal; (6) memberikan kita arti, semangat, kenyamanan dan kebahagiaan.

Perlu dicatat jika bertandang ke arah tempat teman dekat yang dilandasi karena cinta akan datangkan banyak faedah, salah satunya memupuk silaturrahim antara dua keluarga dan mendatangkan kesayangan Allah. Tetapi, dari ke-2 faedah itu, kesayangan Allah ialah hasil paling besar yang kita dapatkan. Karena, dengan memperoleh cinta Allah, semua akan berasa membahagiakan. Dalam sebuah hadits, Nabi Muhammad SAW bersabda:

Dari Abu Hurairah, Dia berkata bahwasanya Rasulullah SAW bersabda: “Jika seorang muslim menjenguk atau menziarahi saudaranya sesama muslim, -Hasan menyebutkan; – karena Allah ‘Azza wa Jalla, maka Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: ‘Engkau telah beruntung, dan beruntung, engkau telah menyiapkan rumah di surga” (HR. Ahmad).

Berdasar hadits di atas, pasti kita bermimpi mempunyai rumah di surga dan tinggal didalamnya. Dan ternyata, berkunjung teman dekat atau famili karena cinta ialah sisi proses dari mempersiapkan rumah di surga. Mari kita siapkan dengan sebagus-baiknya, diantaranya dengan membuat jadual dan melakukan lawatan ke teman dekat-sahabat dan famili-kerabat kita. Lalu bagaimanakah adat berkunjung teman dekat atau famili? Berikut ini akan dirinci banyak hal berkenaan adat bertandang.

Memilih Waktu yang Tepat

Terkait dengan pemilihan waktu berkunjung yang tepat, Allah berfirman sebagai berikut:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِيَسْتَأْذِنْكُمُ الَّذِينَ مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ وَالَّذِينَ لَمْ يَبْلُغُوا الْحُلُمَ مِنْكُمْ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ ۚ مِنْ قَبْلِ صَلَاةِ الْفَجْرِ وَحِينَ تَضَعُونَ ثِيَابَكُمْ مِنَ الظَّهِيرَةِ وَمِنْ بَعْدِ صَلَاةِ الْعِشَاءِ ۚ ثَلَاثُ عَوْرَاتٍ لَكُمْ ۚ لَيْسَ عَلَيْكُمْ وَلَا عَلَيْهِمْ جُنَاحٌ بَعْدَهُنَّ ۚ طَوَّافُونَ عَلَيْكُمْ بَعْضُكُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ ۚ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمُ الْآيَاتِ ۗ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ


Hai orang-orang yang beriman, hendaklah budak-budak [laki-laki dan perempuan] yang kamu miliki, dan orang-orang yang belum baligh di antara kamu, meminta ijin kepada kamu tiga kali [dalam satu hari], yaitu sebelum shalat Subuh, ketika kamu menanggalkan pakaian di tengah hari, dan sesudah shalat ‘Isya. [Itulah] tiga aurat bagi kamu. Tidak ada dosa atasmu dan tidak pula atas mereka selain dari [tiga waktu] itu. Mereka melayani kamu, sebagian kamu [ada keperluan] kepada sebagian [yang lain]. Demikian Allah menjelaskan ayat-ayat bagi kamu. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana (QS. an-Nuur: 58)

Ayat itu menerangkan jika ada tiga waktu dalam satu hari di mana Allah memberinya privacy lebih ke seorang, hingga pelayan dan anak-anak juga harus minta izin jika akan berjumpa. Pertama, waktu saat sebelum Subuh, atau disebutkan juga waktu sahar atau sepertiga malam akhir. Waktu ini ialah waktu terbaik untuk bangun malam. Allah memerintah pada berbahagian malam hari ini untuk bertahajjud sebagai ibadah nawafil kita. Ia janjikan lokasi yang terpuji untuk beberapa pengamalnya. Waktu ini sebaiknya digunakan sebagus mungkin untuk melaksanakan ibadah, dan jangan sampai terusik oleh masalah servis dan lain-lainnya supaya ibadahnya dapat khusyu'.

Ke-2 , waktu tengah hari sesudah shalat dhuhur, disebutkan juga sama waktu qailullah ataupun waktu tidur siang sesaat. Waktu ini ialah saat yang bagus untuk istirahat sesaat buat melepas rasa capek di tubuh dan kembalikan kesehatan badan hingga bisa melanjutkan kegiatannya di sore hari dengan penuh vitalitas. Ke-3 , waktu setelah shalat ‘Isya'. Waktu ini jadi waktu terbaik untuk bermuhasabah harian, istirahat, berkawan dengan isteri, dan tidur. Allah jadikan malam intinya untuk istirahat.

Itu saat-saat privacy yang sebaiknya digunakan sebagus-baiknya supaya tidak terusik oleh beberapa kegiatan yang lain, terhitung aktivitas yang mengikutsertakan pembantu dan anak-anak. Karenanya, karena itu saat menentukan waktu bertandang, jauhilah ke-3 waktu itu, terkecuali atas kebutuhan menekan yang tidak dapat diundur-tunda, dan pasti harus izin tuan-rumah. Rasulullah pernah berkunjung Abu Bakar ba'da Dzuhur saat Beliau sudah diperintah berhijrah.

Dari ‘Aisyah r.a. berkata; “Sangat jarang tiba sebuah hari selain di hari tersebut Beliau SAW menemui rumah Abu Bakar pada dua ujung siang. Maka ketika Beliau diizinkan untuk berhijrah ke Madinah, tidaklah Beliau meninggalkan kami melainkan Beliau mendatangi kami ketika Dzuhur, lalu Abu Bakar diberitahu tentang kedatangan Beliau SAW. Maka Abu Bakar berkata: “Tidaklah Nabi SAW menemui kami pada saat seperti ini melainkan pasti karena ada suatu peristiwa yang terjadi” (HR. Bukhari).

Kekagetan Abu Bakar atas kedatangan Rasulullah di saat qailullah itu memperlihatkan jika waktu itu bukan saat yang wajar Beliau lakukan lawatan. Rupanya memang Rasulullah bawa informasi penting supaya Abu Bakar selekasnya siap-siap menemani Beliau berhijrah ke Madinah.

Pada jaman kita saat ini pilih waktu bertandang lebih gampang. Kita bisa berbicara langsung dengan teman dekat atau saudara yang hendak didatangi lewat alat berkomunikasi yang sudah tersedia banyak, misalkan smartphone. Dengan memakai smartphone, kita bisa lewat cara segera membuat persetujuan mengenai waktu waktu bertandang. Bila sudah setuju, karena itu usahalan untuk memenuhinya. Karena, persetujuan sebagai kesepakatan. Meremehkan kesepakatan terhitung antara pertanda nifaq.

Shalat Berjama’ah

Apabila saat berkunjung masuk waktu shalat fardhu, dan Anda melaksanakan shalat berjama’ah bersama tuan rumah, maka sebaiknya yang menjadi imam adalah tuan rumah. Hal ini sebagaimana dituntunkan dalam hadits berikut:


عَنْ أَبِي مَسْعُودٍ الْأَنْصَارِيِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَؤُمُّ الْقَوْمَ أَقْرَؤُهُمْ لِكِتَابِ اللَّهِ فَإِنْ كَانُوا فِي الْقِرَاءَةِ سَوَاءً فَأَعْلَمُهُمْ بِالسُّنَّةِ فَإِنْ كَانُوا فِي السُّنَّةِ سَوَاءً فَأَقْدَمُهُمْ هِجْرَةً فَإِنْ كَانُوا فِي الْهِجْرَةِ سَوَاءً فَأَقْدَمُهُمْ سِلْمًا وَلَا يَؤُمَّنَّ الرَّجُلُ الرَّجُلَ فِي سُلْطَانِهِ وَلَا يَقْعُدْ فِي بَيْتِهِ عَلَى تَكْرِمَتِهِ إِلَّا بِإِذْنِهِ


Dari Abu Mas’ud al-Anshari, katanya Rasulullah SAW bersabda: “Yang berhak menjadi imam atas suatu kaum adalah yang paling menguasai bacaan kitabullah (al-Qur’an). Jika dalam bacaan kapasitasnya sama, maka yang paling tahu terhadap sunnah. Jika dalam as-Sunnah [hadits] kapasitasnya sama, maka yang paling dahulu hijrah. Jika dalam hijrah sama, maka yang pertama-tama masuk Islam, dan jangan seseorang mengimami seseorang di daerah wewenangnya, dan jangan duduk di rumah seseorang pada ‘takrimah’ [tempat khusus tuan rumah], kecuali telah mendapatkan izin darinya” (HR. Muslim).

Tuan-rumah ialah sulthan di tempat tinggalnya. Dia yang memiliki hak atur semua sesuatunya. Saat diadakan shalat jama'ah di dalam rumah tuan-rumah, karena itu seorang tamu jangan sampai tawarkan dianya jadi imam bila tidak disuruh oleh tuan-rumah, walau dia berasa bacaannya lebih bagus. Berikut salah satunya baiknya beberapa aturan tuntunan Islam, kita harus menghargai kuasa seseorang. Saat masuk daerah kuasa seseorang, adatnya ialah ikuti beberapa aturan yang berjalan pada daerah itu. Sebagai tamu, kita harus menghargai dan ikuti ketentuan tuan-rumah.

Duduk di Lokasi yang Dipersilakan

Saat sudah dipersilakan masuk ke rumah, duduklah sesudah Anda dipersilakan oleh tuan-rumah di lokasi yang diperlihatkan. Ini seperti itu dalam Hadits Kisah Muslim dari Abu Mas'ud al- Anshari di atas, "… dan tidak boleh duduk di dalam rumah seorang pada ‘takrimah' [tempat khusus tuan rumah], terkecuali sudah memperoleh ijin darinya". At-takrimah ialah kasur atau selain yang dihamparkan untuk tuan-rumah dan khusus untuknya (an-Nawawi, Syarah Muslim hadits ke 673). Pada jaman saat ini hal tersebut dapat berbentuk bangku dan meja baca yang ditempatkan di ruangan tamu, atau bangku malas, atau bangku tamu yang umumnya jadi tempat duduk tuan-rumah.

Posting Komentar

0 Komentar

To Top