Adab Bertamu Dalam Islam

Adab Bertamu Dalam Islam

Adab Bertamu

Lights Islam - Bertamu ialah sisi dari langkah bersillaturrahim, sebagai ibadah khusus yang diajarkan Rasululah SAW. Beliau memberinya contoh dan panduan bagaimana seharusnya kita bertamu. Antara adat bertamu ialah seperti berikut:

Bertamu Untuk Memenuhi Undangan

Salah satu kewajiban seorang muslim adalah menghadiri undangan yang ditujukan kepadanya, sebagaimana sabda Rasulullah SAW:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ َ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ حَقُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ خَمْسٌ رَدُّ السَّلَامِ وَعِيَادَةُ الْمَرِيضِ وَاتِّبَاعُ الْجَنَائِزِ وَإِجَابَةُ الدَّعْوَةِ وَتَشْمِيتُ الْعَاطِسِ


Abu Hurairah RA berkata; Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Hak muslim atas muslim lainnya ada lima, yaitu; menjawab salam, menjenguk yang sakit, mengiringi jenazah, memenuhi undangan dan mendoakan orang yang bersin”.

Orang mengundang kita untuk beragam kebutuhan. Ada undangan untuk mendatangi walimatul ‘ursy, aqiqah, lamaran, perundangan makan biasa, bermusyawarah, atau untuk kebutuhan yang lain. Beberapa ulama setuju jika undangan apa saja sebaiknya kita menyambut secara baik sejauh untuk kebaikan dan tidak ada kemungkaran didalamnya, atau dijumpai jamuan tuan-rumah berumupa makanan/ minuman haram atau datang dari yang haram.

Mendatangi undangan ialah wujud penghormatan ke pengundang yang berpengaruh memberinya hati suka dan berbahagia. Kebalikannya, meremehkan undangan memunculkan kekesalan untuk pengundang. Membahagiakan seseorang sebagai sisi dari amal shaleh.

2. Bertamu atas ide sendiri

Bertamu dapat dilaksanakan atas inisitif sendiri untuk menyambung dan perkuat sillaturrahim dengan beberapa teman dekat. Sillaturrahim meluaskan rezeki dan memanjangkan usia, seperti sabda rasulullah SAW sebagai berikut:

عَنْ ابْنِ شِهَابٍ قَالَ أَخْبَرَنِي أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ وَيُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ


Dari Ibnu Syihab dia berkata; telah mengabarkan kepadaku Anas bin Malik bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa ingin dilapangkan pintu rizqi untuknya dan dipanjangkan umurnya hendaknya ia menyambung tali silaturrahmi.” (HR Bukhari)

Bertamu bagus dilaksanakan ke teman dekat yang sudah lama tidak bertemu atau untuk menjalankan hajat yang lain seperti menghadiahkan, oleh-olehan atau sedekah; menengok bagian keluarga tuan-rumah yang sakit; sama-sama tukar info atau pengetahuan; meningkatkan usaha; sekadar rindu-kangenan, atau kebutuhan yang lain. Apa saja keperluannya sebaiknya semua diniatkan karena Allah hanya, Insya Allah bawa karunia untuk yang bertandang atau untuk tuan-rumah.

Seharusnya saat sebelum tiba bertamu minta izin lebih dulu ke tuan-rumah, dan minta anjuran kapan seharusnya jam kunjungan. Ini penting ingat jika sekarang ini aktivitas seorang makin tinggi. Langsung tiba ke rumah memanglah tidak ada pembatasan, tapi tanpa janjian lebih dulu ada peluang tidak bertemu atau mengusik aktivitas khusus tuan-rumah. Dengan tehnologi info yang sudah berkembang sekarang ini, kita dapat minta izin lewat telephone atau sms.

Jauhi juga saat-saat nanggung waktu seperti shalat, saat yang dibiasakan tuan-rumah untuk aktivitas penting setiap hari seperti saat-saat tadarrus bakda maghrib, waktu istirahat, larut malam dan lain-lain, terkecuali atas seijin tuan-rumah.

3. Saat Datang Bertamu

Ketika datang bertamu hendaklah dengan cara yang baik: mengetuk pintu dengan lembut atau menekan bel bila tersedia, mengucap salam, tersenyum dan dengan muka berseri. Firman Allah:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَدْخُلُوا بُيُوتًا غَيْرَ بُيُوتِكُمْ حَتَّىٰ تَسْتَأْنِسُوا وَتُسَلِّمُوا عَلَىٰ أَهْلِهَا ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ


“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta ijin dan memberi salam kepada penghuninya. Yang demikian itu lebih baik bagimu, agar kamu selalu ingat (QS An-Nur ayat 27)

Sesudah dibukakan pintu, disongsong tuan-rumah dan dipersilakan duduk, duduklah dengan sikap yang santun di lokasi yang diperlihatkan untuk Anda. Jauhilah kebanyakan memperhatikan isi rumah apa lagi memata-matai yang tinggal di rumah.

Sesudah sama-sama bertanya berita dan berbasa basi sesaat, cepatlah berikan tujuan lawatan Anda

4. Menikmati Jamuan

Kewajiban tuan rumah menghidangkan jamuan bagi tetamunya, dan tetamu hendaknya menikmati hidangan yang disajikan. Hindari mencela hidangan sebagaimana dicontohkan Nabi Muhammad SAW:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ مَا عَابَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ طَعَامًا قَطُّ إِنْ اشْتَهَاهُ أَكَلَهُ وَإِنْ كَرِهَهُ تَرَكَهُ

Dari Abu Hurairah ia berkata; Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah mencela makanan sekali pun. Bila beliau berselera, maka beliau memakannya dan bila tidak suka, maka beliau meninggalkannya (HR Bukhari, Muslim, Ahmad, At-Tirmidzi, Abu Daud, Ibnu Majah)

Konsumsilah dengan adat yang diberikan Rasulullah SAW: membaca basmalah saat akan makan atau minum, ambil dan menyogok makanan dengan tangan kanan, ambil yang tempatnya paling dekat, disarankan masih tetap terlibat percakapan saat makan, makan seperlunya dan tidak terlalu berlebih, habiskan makanan yang diambil, dan membaca hamdalah sesudah usai (Insya Allah mengenai adat makan akan diterangkan dalam edisi tertentu).

5.  Berima Kasih dan Berdoa Kepada Tuan Rumah

Ucapkan terima kasih atas sambutan dan hidangan yang diberikan kepada Anda, dan berikan apresiasi yang tinggi atas kepada tuan rumah. Pandai berterima kasih adalah adalah salah satu ciri orang berakhlak mulia yang akan melipatgandakan nikmat Allah  kepadanya. Firman Allah:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ وَاشْكُرُوا لِلَّهِ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rejeki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar kepada-Nya kamu menyembah” (QS al-Baqarah ayat 172)

Kita memperoleh rejeki Allah tidak semata-mata atas jerih payah diri sendiri, tetapi selalu ada keterlibatan orang lain yang menjadi perantara datangnya rejeki tersebut. Hidangan yang berikan saat bertamu merupakan rejeki Allah  melalui perantara tuan rumah. Berterima kasih kepada tuan rumah merupakan syarat kesyukuran kepada Allah SWT.  Rasulullah SAW bersabda:


عَنْ أَبِي سَعِيدٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ لَمْ يَشْكُرْ النَّاسَ لَمْ يَشْكُرْ اللَّهَ


“Barang siapa yang tidak bersyukur kepada manusia, berarti ia tidak bersyukur kepada Allah”. (HR Tirmidzi)

Apa yang dilakukan tuan hendaknya kita apresiasi dengan baik dengan memberikan komentar atau pujian yang tulus sebagaimana dilakukan Rasulullah SAW. Dalam sebuah hadits dari Dari Anas bin Malik, ia berkata:

“Bahwasanya Nabi SAW apabila berbuka puasa di suatu rumah, beliau bersabda: “Telah berbuka puasa di rumah kalian orang yang sedang berpuasa, dan orang-orang yang baik telah memakan makanan kalian dan malaikat telah turun di tengah-tengah kalian.” (HR Tirmidzi, Abu Daud, Ahmad)

Hendaklah berdoa untuk tuan rumah. Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa Rasulullah SAW mendoakan Abdullah bin Busr setelah ia menghidangkan makanan utuk beliau:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ بُسْرٍ قَالَ نَزَلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى أَبِي فَقَرَّبْنَا إِلَيْهِ طَعَامًا فَأَكَلَ مِنْهُ ثُمَّ أُتِيَ بِتَمْرٍ فَكَانَ يَأْكُلُ وَيُلْقِي النَّوَى بِإِصْبَعَيْهِ جَمَعَ السَّبَّابَةَ وَالْوُسْطَى قَالَ شُعْبَةُ وَهُوَ ظَنِّي فِيهِ إِنْ شَاءَ اللَّهُ وَأَلْقَى النَّوَى بَيْنَ أُصْبُعَيْنِ ثُمَّ أُتِيَ بِشَرَابٍ فَشَرِبَهُ ثُمَّ نَاوَلَهُ الَّذِي عَنْ يَمِينِهِ قَالَ فَقَالَ أَبِي وَأَخَذَ بِلِجَامِ دَابَّتِهِ ادْعُ لَنَا فَقَالَ اللَّهُمَّ بَارِكْ لَهُمْ فِيمَا رَزَقْتَهُمْ وَاغْفِرْ لَهُمْ وَارْحَمْهُمْ


Dari Abdullah bin Busr ia berkata; Rasulullah SAW mengunjungi ayahku, kemudian kami menyuguhkan makanan untuk beliau. Beliau pun makan sebagian darinya, kemudian beliau diberi kurma, dan beliau makan serta membuang bijinya menggunakan dua jari beliau. Abdullah bin Busr menggabungkan jari telunjuk dan jari tengah. Syu’bah berkata; dan itu yang aku yakini insya Allah. Dan beliau membuang biji kurma diantara kedua jarinya. Kemudian beliau diberi minum, lalu beliau meminumnya kemudian memberikan kepada orang yang ada di samping kanannya. Abdullah bin Busr berkata; ayahku dalam keadaan memegang kendali hewan kendaraannya berkata; doakan untuk kami! Kemudian beliau berdoa: “Allaahumma baarik lahum fiimaa razaqtahum waghfir lahum warhamhum.” (Ya Allah, berkahilah mereka pada rizki yang telah engkau berikan kepada mereka, dan ampunilah dosa mereka, serta kasihilah merekah.” (HR Tirmidzi)

6. Bila harus menginap maksimal 3 hari

Bila yang dikunjungi bertempat tinggal cukup jauh dan harus menginap, maksimal boleh menginap sampai 3 hari. Rasulullah SAW bersabda:

عَنْ أَبِي شُرَيْحٍ الْكَعْبِيِّ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ جَائِزَتُهُ يَوْمٌ وَلَيْلَةٌ وَالضِّيَافَةُ ثَلَاثَةُ أَيَّامٍ فَمَا بَعْدَ ذَلِكَ فَهُوَ صَدَقَةٌ وَلَا يَحِلُّ لَهُ أَنْ يَثْوِيَ عِنْدَهُ حَتَّى يُحْرِجَهُ حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ قَالَ حَدَّثَنِي مَالِكٌ مِثْلَهُ

Dari Abu Suraih Al Ka’bi bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari Akhir, hendaknya ia memuliakan tamunya dan menjamunya siang dan malam, dan bertamu itu tiga hari, lebih dari itu adalah sedekah baginya, tidak halal bagi tamu tinggal (bermalam) hingga (ahli bait) mengeluarkannya.” (HR Bukhari dan Muslim)

Kita seharusnya memahami bahwa setiap orang memiliki kesibukan. Seorang muslim berkewajiban memuliakan tamunya dengan sambutan dan jamuan selama tamunya berada di rumahnya. Bertamu dalam waktu yang lama tentu dapat mengganggu aktifitas penting tuan rumah.  Oleh karena itu, Islam memberikan toleransi maksimal 3 hari kita boleh menginap dalam bertamu.

Melebihi tiga hari dapat menyebabkan tuan rumah berdosa, sebagaiman disebutkan dalam hadits dari Abu Syuraih Al Khuza’I, dia berkata:

“Rasulullah SAW bersabda: “Bertamu itu selama tiga hari, dan pelayanannya selama siang atau malam hari. Tidak halal bagi seorang muslim bermukim di rumah saudaranya sampai saudaranya berdosa karenanya.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana dia bisa berdosa?” beliau menjawab: “Dia bermukim di rumah saudaranya hingga saudaranya tidak punya apa-apa lagi untuk menjamunya.” (HR Muslim)

7. Perhatikan Keadaan Tuan Rumah

Hendaklah seorang tamu bertenggang rasa dengan memperhatikan bagaimana keadaan tuan rumah sehingga kehadirannya dapat menyenangkan bagi tuan rumah dan tidak memberatkannya. Bila terlihat tuan rumah sedang sibuk, banyak pekerjaan, atau terlihat repot, bersegaralah menyampaikan maksud kunjungan dan jangan berlama-lama. Perhatikan pula isyarat yang diberikan tuan rumah seperti berulang-ulang melihat jam, atau terlihat gelisah, merupakan pertanda bahwa ia ingin tamunya segera pulang. Rasulullah berpesan:

وَلَا يَحِلُّ لَهُ أَنْ يَثْوِيَ عِنْدَهُ حَتَّى يُحْرِجَهُ


“Tidak halal bagi tamu berlama-lama di tempat kunjungannya sehingga memberatkan tuan rumah” (HR Tirmidzi)

Apalagi mengunjung orang sakit, sebaiknya tidak berlama-lama untuk memberikan kesempatan kepadanya beristirahat.

8. Berpamitan Ketika Selesai Urusan

Bila urusan telah selesai segeralah berpamitan kecuali ditahan oleh tuan rumah. Bedakan menahan sekedar basa basi atau menahan sesungguhnya. Kultur masyarakat tertentu ada yang menjawab pamitan tamu dengan “Kok tergesa-gesa?” atau “Mbok nanti-nanti”. Itu adalah jawaban standar basa basi atas permintaan pamit. Ucapkan salam dan tinggalkan rumah dengan senyum.

HAK-HAK TAMU

عَنْ أَبِي شُرَيْحٍ الْكَعْبِيِّ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ جَائِزَتُهُ يَوْمٌ وَلَيْلَةٌ وَالضِّيَافَةُ ثَلَاثَةُ أَيَّامٍ فَمَا بَعْدَ ذَلِكَ فَهُوَ صَدَقَةٌ وَلَا يَحِلُّ لَهُ أَنْ يَثْوِيَ عِنْدَهُ حَتَّى يُحْرِجَهُ


Dari Abu Suraih Al Ka’bi bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam (SAW) bersabda: “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari Akhir, hendaknya ia memuliakan tamunya dan menjamunya siang dan malam. Dan bertamu itu tiga hari, lebih dari itu adalah sedekah baginya;  dan tidak halal bagi tamu tinggal (berlama-lama) sehingga memberatkannya.”

Sebagai makhluk sosial, manusia membutuhkan hubungan sama orang lain. Bertamu dan terima tamu ialah kegiatan yang nyaris terjadi pada tiap orang. Rasulullah SAW memerintah kita bersillaturrahim, dan salah satunya memiliki bentuk dengan sama-sama berkunjung. Aktivitas ini memperkuat jalinan dan memupuk kasih-sayang di antara faksi yang bertandang sama yang didatangi. Mempunyai jalinan baik dengan beberapa orang memacu kebahagiaan dan membuat hidup kita berasa cantik.

Bagaimana hati Anda saat seluruh orang menghargai, mengasihi, memerhatikan, dan menghargai Anda? Tentunya Anda berasa berbunga-bunga. Hati ini memacu otak keluarkan hormon endorfin yang membuat kita berasa suka berbahagia. Kebahagiaan membuat kita semangat jalani aktivitas setiap hari dengan enerjik. Itu modal bernilai ke arah keberhasilan.

Kebalikannya jalinan jelek sama orang lain membuat dunia ini berasa sempit dan hidup jadi susah. Pernahkan Anda dibenci dan dilecehkan orang? Benar-benar tidak nikmat kan? Tiap kita mengetahui ada orang yang membenci, jantung berdegap lebih keras dan berdebar. Hormon adrenalin dan noradrenalin mengucur cepat membuat pembuluh darah menyempit memunculkan rasa kuatir, cemas, dan takut.

Bertamu dan terima tamu sebagai amal untuk membangun hubunan baik. Kita dapat berkunjung saudara, famili, teman dekat, rekanan, dan sebagainya. Rasulullah SAW sudah memberinya bimbingan mengenai adat bertamu yang bawa karunia untuk orang yang bertamu dan yang terima tamu.

ADAB MENERIMA TAMU

Kehadiran tamu ialah karunia untuk tiap muslim. Sebaiknya tetamu-tetamu kita menyambut dengan sebagus-baiknya supaya pahala yang kita terima ialah pahala yang sebagus-baiknya. Antara adat terima tamu ialah seperti berikut:

1. Terima Tamu dengan Baik

Tamu yang tiba bertandang ke rumah kita ada saatnya tiba sendiri dan ada saatnya memang kita undang. Keduanya sebaiknya diterima secara baik. Rasulullah SAW ialah contoh panutan yang menerima tamu yang bagus.

قَالَ جَرِيرُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ مَا حَجَبَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُنْذُ أَسْلَمْتُ وَلَا رَآنِي إِلَّا ضَحِكَ


Dari Jarir bin ‘Abdullah berkata; “Sejak saya masuk Islam, Rasulullah SAW tidak pernah menolak saya untuk bertamu dan berkunjung ke rumah beliau. Dan beliau selalu tersenyum setiap kali melihat saya.”

Menerima dan memuliakan tamu merupakan bagian dari tanda keimanan, sebagaimana disebutkan dalam hadits dari Abu Suraih Al Ka’bi bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari Akhir, hendaknya ia memuliakan tamunya dan menjamunya siang dan malam, dan bertamu itu tiga hari, lebih dari itu adalah sedekah baginya, tidak halal bagi tamu tinggal (bermalam) hingga (ahli bait) mengeluarkannya.”

Seorang mukmin sebaiknya siap terima tamu di tempat tinggalnya atau tempat yang lain pantas. Terlebih-lebih jika tamu-tamunya tiba atas undangannya, penyiapannya sebaiknya lebih bagus. Persiapkan di mana mereka akan ditaruh, bagaimana penyambutannya, dan apa jamuan atau sajiannya. Jika harus bermalam, dipersiapkan juga kamar tempat mereka tidur. Memperoleh jamuan adalah hak tamu yang perlu kita tunaikan.

Kitapun harus juga mempersiapkan diri untuk kehadiran tamu kapan pun. Salah satunya wujud persiapannya direalisasikan dengan sediakan ruangan tamu di dalam rumah kita. Alhamdulillah, nyaris tiap rumah golongan muslimin sudah disiapkan ruangan tamu, serta banyak juga yang sediakan kamar khusus untuk tamu yang bermalam.

2. Menyambut Tamu dengan Baik

Ketika ada orang yang mengetuk pintu rumah atau memencet bel dan memberi salam adalah pertanda ada orang yang mau bertamu ke rumah kita. Hendaklah menjawab salam dan bersegera memberikan sambutan dengan membukakan pintu, senyum ceria, dan menyapa dengan ramah. Senyum ceria merupakan ekspresi bahwa kita senang menyambut kedatangannya. “Senyummu di hadapan saudaramu adalah sedekah”, demikian sabda Nabi SAW

Beliau juga bersabda:

لَا تَحْقِرَنَّ شَيْئًا مِنْ الْمَعْرُوفِ وَأَنْ تُكَلِّمَ أَخَاكَ وَأَنْتَ مُنْبَسِطٌ إِلَيْهِ وَجْهُكَ إِنَّ ذَلِكَ مِنْ الْمَعْرُوفِ


“Janganlah engkau remehkan perkara ma’ruf, berbicaralah kepada saudaramu dengan wajah yang penuh senyum dan berseri, sebab itu bagian dari perkara yang ma’ruf”


Beliau memberikan teladan dengan selalu tersenyum ketika berbicara. Beliau dikenal sebagai orang yang paling banyak senyumnya, sebagaimana hadits dari Abdullah bin Al Harits bin Jaz`i dia berkata; “Aku tidak pernah melihat seseorang yang paling banyak senyumannya selain Rasulullah SAW.” Senyum kita melapangkan hati tamu dan membuat mereka merasa terhormat dan dihargai.

Sapaan yang hangat akan lebih mencairkan suasana sehingga pertemuan menjadi lebih hangat dan akrab. Rasulullah memberikan teladan dalam menyapa tetamu-tetamu beliau. Ketika menerima utusan Abdul Qais beliau menyambut: “Selamat datang wahai para utusan, yang datang tanpa rasa kecewa dan penyesalan”. Bahkan ketika Fathimah puteri beliau datang berkunjung, beliau menyambut: “Selamat datang, wahai puteriku”.

Tanya juga bagaimana kondisi mereka dengan bertanya: "Apa kabarnya?". Panggilan yang ramah sebagai pernyataan jika kita suka terima tamu kita.

Seterusnya persilakan duduk di lokasi yang semestinya di ruangan tamu. Umumnya rumah diperlengkapi dengan ruangan tamu. Sebaiknya ruangan tamu selalu dijaga supaya masih tetap pada kondisi bersih, rapi, dan harum. Kondisi yang kotor, amburadul, dan berbau tidak lezat jadikan situasi jadi kurang nyaman.

3. Menjamu

Setelah tamu duduk dan berbasa basi sebentar, segeralah persiapkan dan hidangkan suguhan berupa air minum dan makanan ringan. Mendapat suguhan merupakan hak tamu. Dari Abu Suraih Al Ka’bi bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaknya ia memuliakan tamunya dan menjamunya siang dan malam.”

Nabiyullah Ibrahim AS juga memberikan contoh dalam memberikan penghormatan kepada tetamunya sebagaimana diabadikan dalam al-Qur’an:

Sudahkah sampai kepadamu (Muhammad) cerita tentang tamu Ibrahim (malaikat-malaikat) yang dimuliakan?  Ingatlah ketika mereka masuk ke tempatnya lalu mengucapkan “salam”, Ibrahim menjawab: “Salam, orang-orang yang tidak dikenal”. Maka ia pergi diam-diam menemui keluarganya, kemudian dibawanya daging anak sapi gemuk (yang dibakar), lalu dihidangkan kepada mereka. Ibrahim berkata: “Silakan kamu makan”.

Nabi Muhammadi sendiri suka memberikan hidangan kepada tamu-tamu beliau. Dari Al-Mughirah bin Syu’bah dia berkata:  “Pada suatu malam saya pernah bertamu kepada Nabi SAW. Lalu beliau memerintahkan untuk diambilkan sepotong daging kambing besar. Setelah dipanggang, beliau mengambil sebilah pisau, lalu beliau memotong-motongnya untukku dengan pisau tersebut”.

Terhadap tamu non muslim pun beliau menjamu. Dari Abu Hurairah berkata, “Seorang kafir datang bertamu kepada Rasulullah SAW. Maka beliau memerintahkan untuk mendatangkan seekor kambing untuk diperah, orang kafir itu lalu memimun perahan susunya. Lalu diperahkan dari kambing yang lain, dan ia meminumnya. Lalu diperahkan dari kambing lain lain, dan ia meminumnya lagi, hingga menghabiskan susu dari tujuh kambing. Keesoakan harinya orangitu masuk Islam. Rasulullah SAW menyuruh agar kambing beliau diperah. Diapun minum air susunya, kemudian beliau memerahkannya lagi namun dia tidak sanggup menghabisinya. Sehingga Rasulullah SAW bersabda: “Seorang mukmin minum dengan satu usus sedangkan orang kafir minum dengan tujuh usus.”

Terhadap pentingnya menjamu, Rasulullah menyatakan:

عَنِ الْمِقْدَامِ بْنِ مَعْدِي كَرِبَ أَبِي كَرِيمَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّمَا مُسْلِمٍ أَضَافَ قَوْمًا فَأَصْبَحَ الضَّيْفُ مَحْرُومًا فَإِنَّ حَقٌّ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ نَصْرَهُ حَتَّى يَأْخُذَ بِقِرَى لَيْلَتِهِ مِنْ زَرْعِهِ وَمَالِهِ

Dari Al Miqdam bin Ma’di Karib, Abu Karimah dari Nabi SAW, “Seorang muslim yang bertamu kepada suatu kaum, dan pagi harinya tamu itu dalam keadaan tidak mendapatkan jamuan, seorang muslim wajib menolongnya hingga ia mengambilkan jamuan malamnya dari tanamannya dan hartanya.”

Para sahabat sangat mementingkan jamuan untuk tamu. Berikut ini riwayat terkait yang disampaikan oleh Nabi kepada Abu Hurairah:

“Seorang laki-laki Anshar kedatangan tamu dan bermalam di rumahnya. Padahal dia tidak mempunyai makanan selain makanan anak-anaknya. Maka dia berkata kepada isterinya; ‘Tidurkan anak-anak dan padamkan lampu. Sesudah itu suguhkan kepada tamu kita apa adanya.’ Kata Abu Hurairah: ‘Karena peristiwa itu maka turunlah ayat Al Hasyr 9 itu:

“Dan mereka mengutamakan orang lain (muhajirin) atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan…”

Bagian ke-4 dari Surah Al Hasyr 9 itu menunjukkan penghargaan Al Qur’an kepada orang yang memiliki empati kepada orang lain, padahal dirinya sendiri dalam kesusahan. Bayangkan betapa tinggi nilai perbuatan seperti itu.

Anda yang memiliki kecukupan rezeki ada baiknya senantiasa memiliki persediaan minuman dan makanan di rumah, sehingga sewaktu-waktu ada tamu tinggal menghidangkannya.

Ketika hidangan telah siap tuan rumah mempersilahkan tetamunya menikmati terlebih dahulu, baru ia mengikuti setelah tetamunya. Hal ini berdasar hadits Qatadah RA yang cukup panjang, dia berkata: “….. Lalu Rasulullah SAW menuangkan air dan aku membagikannya, hingga tidak ada yang tersisa selain aku dan Rasulullah SAW. Kemudian Rasulullah SAW bersabda kepadaku, “Minumlah”. Aku jawab, “Aku tidak akan minum hingga engkau minum, wahai Rasulullah”. Beliau bersabda, “Sesungguhnya, orang yang memberi minum itulah yang terakhir minum”. Qatadah melanjutkan: “Maka akupun minum, dan Rasulullah SAW pun kemudian minum…."

4. Mengiringi Tamu Ketika Pulang

Jika tetamu sudah nikmati jamuan yang dihidangkan, menuntaskan hajatnya, dan mohon pamit akan pulang sebaiknya disampaikan kalimat perpisahan yang membahagiakan, mengucapkan terima kasih atas kunjungannya, dan memperlihatkan raut muka yang berseri-seri. Untuk memperlihatkan keakraban, antar tamu sampai pelataran rumah, dan pandanglah sampai dia sudah keluar pelataran rumah.

Abu Ubaid Qasim bin Salam pernah berkunjung Ahmad bin Hambal. Abu Ubaid berbicara: "Ketika saya akan pergi, ia bangun bersamaku. Aku juga berbicara (karena malu atas penghormatannya itu): "Tidak boleh kau kerjakan ini, wahai Abu Abdillah!".

Sementara itu Abu Amar al-Hamadzani As-Sya’bi, seorang pemuka tabi’in yang cerdas dan tawadu’ yang diketahui belajar kepada 500 sahabat Nabi, mengatakan: “Di antara kesempurnaan sambutan orang yang dikunjungi adalah engkau berjalan bersamanya hingga ke pintu rumah dan mengambilkan kendaraannya.”

Tuntunan memuliakan tamu ialah tuntunan mengagumkan dalam membuat sillaturrahim dan jalinan baik setiap muslim. Disini Islam memperkenalkan ide "hak-hak tamu" ke umat. Semoga kita bisa mempraktikkan secara baik dengan menjalankan hak-hak tamu sebagai kewajiban kita. Insya Allah iman kita makin bertambah

Posting Komentar

0 Komentar

To Top