Ajaran Islam dan Peran Umat Muslim Menghentikan Krisis Iklim

Ajaran Islam dan Peran Umat Muslim Menghentikan Krisis Iklim
Ajaran Islam dan Peran Umat Muslim Menghentikan Krisis Iklim

 Khutbah Pertama

Alhamdulillah alladzi anzalas sakinata fi qulubil mu’minina li yazdadu imanan ma’a imanhim. Asyhadu an la ilaha illa Allah wa asyhadu anna Muhammad abduhu wa rasuluhu.

QalaLlahu ta’ala fil Qur’an al-karim: “afala yanzduruna ilal ibili kayfa khuliqat. Wa ila sama’i kayfa rufi’at. Wa ilal jibali kayfa nusibat. Wa ilal ardhi kayfa sutihat” (Qs al-Ghasiyah [88] ayat 17-20:)

Wa qala Rasulullah saw: “In Qāmat as-Sā’ah wa fī yadi ahadikum fasīlah, fa in istathā’a an lā taqūma hattā yugrisaha fal yugrisha.” Hadits ini oleh ImamAhmaddalam Musnad Imam Ahmad 3/183, 184, 191, dan Imam Bukharidi kitab Al-Adab Al-Mufrad no. 479 

Peserta Jama'ah Jum'ah rahimakumullah

Semua puji untuk Allah swt yang sudah memberinya nikmat iman dan nikmat kesehatan, hingga kita bisa melakukan beribadah baik yang mahdhah atau yang ghayr mahdhah, salah satunya ialah beribadah usbuiyyah yakni beribadah jumat yang kita kerjakan di siang ini. Shalawat dan salam mudah-mudahan selalu terlimpahkan ke Nabi dan Rasul utusan Allah yang paling akhir, Nabi Muhammad Saw, ke keluarga, teman dekat, tabiin, dan kita yang istiqomah ikuti tapak jejak cara beliau dalam menyebarkan kebaikan ke semesta.

Peserta Jama'ah Jum'ah rahimakumullah

Perkenankan khatib ajak diri kita dan jemaah sekaligus untuk selalu meningkatkan ketaqawaan ke Allah swt dengan sebenar-benar taqwa.

Peserta Jama'ah Jum'ah rahimakumullah

Tahun 2020 disebutkan oleh Organisasi Meteorologis Dunia (WMO), sebuah tubuh khusus PBB untuk cuaca dan cuaca, hidrologi dan geofisika yang pusat di Jenewa, Swiss, sebagai tahun terpanas untuk cuaca planet bumi. Sekretaris Jenderal WMO, Patteri Taalas menyebutkan Gas rumah kaca di atmosfer, sebagai penggerak khusus kritis cuaca, capai rekor paling tinggi tahun kemarin dan semakin meningkat pada 2020.

Awalnya, MWO memberikan laporan selama setahun 2015-2019 suhu global alami kenaikan rerata sebesar 0.2 °C dibanding dengan tahun 2011-2015. Suhu bumi alami peningkatan sejumlah 1 °C dibanding dengan suhu bumi saat sebelum periode revolusi Industri, beberapa era kemarin.

Peserta Jama'ah Jum'ah rahimakumullah

S/d tahun 2050, temperatur bumi diprediksi akan naik sejumlah 2 derajat celcius. Efeknya, seperti disebut oleh PBB, bakal ada 200 juta orang pengungsi karena kritis cuaca. Bila kita membaca riwayat, angka 200 juta ialah keseluruhnya komunitas manusia di dunia pada periode pucuk kekaisaran Romawi. Disamping itu, bakal ada 400 juta orang yang kesusahan air bersih, bahkan juga beberapa kota di wilayah khatulistiwa bisa menjadi tidak pantas huni karena alamnya makin remuk dan tidak mempunyai daya bantu.

Peserta Jama'ah Jum'ah rahimakumullah

Belajar pengalaman dari sejauh 2015-2019, kritis cuaca sudah memberinya imbas jelek, salah satunya banjir dan kekeringan. Sejauh 2015-2019, banjir disampaikan sudah menghajar China pada Juni-Juli tahun 2016. Mengakibatkan, sekitar 310 orang wafat dan secara ekonomi negara ini alami rugi sebesar USD 14 triliun.

Pada Agustus 2017, banjir menerpa beberapa negara, yakni India, Bangladesh, Nepal, dan Sierra Leone. Keseluruhan orang yang wafat di India, Bangladesh, dan Nepal, terdaftar sekitar 1200 orang dan 40 juta orang terimbas kesehatannya karena penyakit yang menebar saat banjir. Sementara di Sierra Leone, banjir dibarengi longsor sudah membunuh 1.102 orang.

Berkaitan dengan imbas kritis cuaca lainnya, yakni kekeringan, sejauh 2015-2018 terdaftar cadangan air alami penipisan di cape Town, Afrika Selatan, yang mengakibatkan kota ini nyaris kekurangan air pada 2018. Di Afrika timur pada 2016-2017, 6,tujuh juta orang alami kerentanan pangan pada pucuk kekeringan.

Di Indonesia, imbas jelek kritis cuaca bisa disaksikan dari beberapa poin utama, salah satunya kebakaran rimba dalam 5 tahun paling akhir. Di tahun 2015 saja, terdaftar 2.6 hektar rimba lenyap dan minimal 34 orang wafat. Disamping itu, kritis cuaca berpengaruh pada tenggelamnya beberapa pulau kecil dan makin bertambahnya daerah pesisir yang terserang abrasi. Dalam kerangka pertanian, kritis cuaca menghancurkan musim tanam dan panen. Karena periode panjangnya, kedaulatan pangan akan ditaruhkan.

Kritis cuaca mengakibatkan cuaca berlebihan dan susah diterka. Di satu daerah, bisa jadi terjadi hujan terus-terusan yang dibarengi dengan angin ribut dan mengakibatkan banjir. Sementara di daerah lain terjadi kemarau berkelanjutan sampai keringkan sawah, kebun dan beberapa sumber air warga. Belum juga temperatur ekstrim yang karena panas matahari bisa membakar kulit.

Cuaca ekstrim seperti hujan kuat yang terjadi terus-terusan akan mengakibatkan banjir bila dataran belum siap memuat luapan air yang banyak. Keadaan banjir mengakibatkan lingkungan kotor dan jadi lingkungan yang baik sekali untuk sarangga dan nyamuk penebar penyakit untuk hidup dan mereproduksi. Dengan keadaan semacam ini, kasus penyakit seperti malaria dan demam berdarah akan banyak. Sementara keadaan ekstrim lingkungan memengaruhi daya badan manusia hingga gampang sekali jadi sakit.

Peserta Jama'ah Jum'ah rahimakumullah

Apa sebagai pemicu kritis cuaca? kritis cuaca ialah rintangan riil yang ditemui oleh semua substansi dari muka bumi. Kritis ini sebagai penumpukan sekalian alih bentuk dari beragam kerusakan ekologis yang sejauh ini terjadi karena opsi pola hidup manusia yang ekspolitatif dan destruktif sekalian pola hidup yang tidak ramah lingkungan.

Lebih jauh, kritis cuaca sebagai realisasi dari kritis religius dan kritis pola manusia dalam menempatkan rekanannya dengan alam. Kritis paradgima dan kritis religius yang diartikan ialah, alam dihayati sebagai substansi yang cuman mempunyai nilai instrumental atau benda mati semata-mata. Alam cuman dikalkulasi dengan hitungan-hitungan untung dan rugi. Walau sebenarnya, dalam tuntunan Islam, alam mempunyai nilai pada dirinya (nilai intrinsik) dan dilihat mempunyai nilai keramat, karena sebagai realisasikeberadaan Allah swt. Dalam Islam, alam kerap dikatakan sebagai ayat kauniyyah.

Kritis religius dan atau kritis pola berikut yang disebutkan oleh al-Qur'an sebagai fasād. Kata fasād dengan semua kata jadiannya dalam Al-Qur'an terulang lagi sekitar 50 kali, yang memiliki arti suatu hal yang keluar kesetimbangan (khurūj al-sya'i ‘an al-i'tidāl). Sementara lingkup arti fasād rupanya lumayan luas, yakni tersangkut jiwa/rohani, tubuh/fisik, dan apa yang menyelimpang dari kesetimbangan/yang seharusnya. Dengan begitu, kritis cuaca, bukan suatu hal yang berdiri dengan sendiri. Tetapi, ada pemicu yang menggerakkan hal itu terjadi, intinya kerusakan pemikiran dan hati manusia.

Salah satunya ayat yang masyhur berkaitan ini ialah surat al-Rum: 42 yang mengeluarkan bunyi: "Zhaharal fasadu fil barri wal bahri bima kasabat aydinnas" sudah terlihat kerusakan di laut dan darat disebabkan karena tindakan tangan manusia. Arti fasad dalam ayat ini, memiliki makna yang material dan non-material. Arti material, dapat dalam berbentuk kehilangan rimba yang tetap bertambah, pencemaran laut dan perairan, atau lenyapnya peranan sebuah ekosistem yang diperlukan untuk kehidupan. Dan arti non-material ialah kerusakan langkah berpikiran, matinya religiusitas manusia dalam meresapi kehadiran alam, dan kerusakan pola hidup manusia yang jadikan konsumsi sebagai arah hidup.

Peserta Jama'ah Jum'ah rahimakumullah

Lantas apa yang bisa kita kerjakan untuk perlambat atau hentikan kritis cuaca ini? Dalam kesempatan kali ini, khatib akan tawarkan beberapa hal:

Pertama, Yang paling penting ialah kita harus mempunyai pengetahuan global pada masalah ini, tapi sekalian lakukan ide pada tingkat lokal. Antara yang bisa kita kerjakan ialah memasifkan kegiatan menanam pohon. Ini sudah dikatakan oleh Nabi Muhammad dalam sebuah hadits yang disampaikan di muqaddimah barusan, yakni: "In Qāmat as-Sā'ah wa fī yadi ahadikum fasīlah, fa in istathā'a an lā taqūmas saah hattā yugrisaha fal yugrisha." Andaikan bila kiamat bisa terjadi, dan pada tanganmu ada benih/tunas, bila kamu sanggup untuk menanamnya saat sebelum kiamat itu terjadi, karena itu tanamlah. Hadits ini mengutamakan keutamaan menanam pohon walau hari kiamat tiba keesokan hari . Maka hadapi kiamat itu, Nabi memerintrahkan kita untuk memanam bukan memanah dan naik kuda.

Ke-2 , kitaperlumengembangkan tafsiran ekologis dalam beragama. Yang diartikan dengan "tafsiran" dalam kerangka ini bukan disiplin pengetahuan tafsiran al-Qur'an yang mempunyai persyaratan yang ketat seperti disetujui oleh beberapa periset tafsiran. Tujuan tafsiran di sini ialah pengetahuan dan penghayatan seorang muslim pada tuntunan Islam. Umat Islam di Indonesia telah saatnya meningkatkan tafsiran yang berpikiran lingkungan dalam pahami dan meresapi bangunan tuntunan Islam.

Mengapa begitu? karena dalam al-Qur'an, misalkan, banyak diketemukan ayat-ayat yang paling terang mengarah pada bukti-bukti kesetimbangan ekologis seperti ayat-ayat mengenai gunung, ayat-ayat mengenai air, ayat-ayat mengenai pohon, ayat-ayat mengenai hewan, dan lain-lain. Yang lebih jauh fundamental ialah al-Qur'an memerintah kita untuk merenungkan asal mula kehadiran manusia. Itab suci banyak menyebutkan asal mula peristiwa manusia yang dari saripati tanah yang dibuat oleh Allah Swt.

Muhammad Fuad Abdul Baqi dalam kitabnya yang paling populer, Mu'jam al-Mufahras li Alfādzil Qur'ān al-Karīm hitung jumlah kalimat yang paling terkait dengan kehadiran beragam tipe makhluk hidup dan substansi ekologis sebagai pertanda kesetimbangan planet bumi, seperti berikut:

Pertama, beberapa benda langit. kata langit disebutkan sekitar 310 kali, matahari disebutkan sekitar 33 kali, bulan disebutkan sekitar 27 kali, bintang disebutkan sekitar 18 kali, awan disebutkan sekitar 9 kali, dan angin sekitar 27 kali;

Ke-2 , substansi hewani. Salah satunya, burung disebutkan sekitar sebanyak 20 kali. Selainnya burung, al-Qur'an menyebutkan beberapa nama hewan, yakni: sapi, lebah, laba-laba, semut, unta, kambing/domba, anjing, kuda, keledai, semut, lebah, babi, ular, nyamuk, serangga, dan gajah;

Ke-3 , bumi dan substansi nabati. Kata bumi disebutkan sekitar 451 kali, tanah sekitar 29 kali, pohon dengan beragam derivasinya sekitar 26 kali, buah dengan beragam derivasinya sekitar 24 kali, tanaman sekitar 14 kali, kata hijau yang menempel ke pohon dan tumbuhan sekitar 8 kali;

Ke-4, gunung dan substansi hidrologis. Kata gunung disebutkan sekitar 39 kali, batu dan beragam derivasinya sekitar 12 kali, air sekitar 63 kali, sungai dan beragam derivasinya sekitar 59 kali, mata air sekitar 20 kali, dan laut sekitar 41 kali.

Peserta Jama'ah Jum'ah rahimakumullah

Terkait dengan itu, silahkan kita pikirkan firman Allah dalam Al-Qur'an, terutamanya Surat al-Ghasiyah [88] ayat 17-20: "afala yanzduruna ilal ibili kayfa khuliqat. Wa ila sama'i kayfa rufi'at. Wa ilal jibali kayfa nusibat. Wa ilal ardhi kayfa sutihat (terjemah seperti berikut: "Apa mereka tidak memerhatikan bagaimana unta dibuat," "dan langit bagaimana ditinggikan," "dan gunung-gunung bagaimana ditegakkan," "dan bumi bagaimana dihamparkan. ")

Ayat mengenai unta dan gunung bisa diartikan sebagai lambang berkenaan keutamaan keberagaman hayati sebagai pertanda kesetimbangan ekosistem planet bumi. Kehadiran ke-2 nya penting untuk dijaga karena manusia mempunyai keperluan yang tinggi sekali pada hewan dan gunung atau rimba karena didalamnya ada sumber air bersih. Ayat mengenai langit, bisa diartikan sebagai lambang keutamaan kita selalu memerhatikan kesetimbangan cuaca planet bumi. Oleh karenanya, beberapa pemukim bumi, terutamanya beberapa pembaca dan pengiman kitab suci al-Qur'an harus turut serta aktif dalam jaga kesetimbangan cuaca.

Dan ayat mengenai bumi ialah lambang mengenai rumah kita bersama yakni planet bumi, di mana kita tinggal di atas tanahnya. Bumi, yang di dengan bahasa Arab disebutkan ardh dan Bahasa Inggris disebutkan earth, tidak memerlukan mekanisme ekonomi yang ekstraktif dan eksploitatif. Bumi pun tidak memerlukan beberapa orang yang cuman mempunyai kepandaian tehnis. Kebalikannya, bumi memerlukan mekanisme ekonomi memiliki daya sembuh yang tidak menggali, tapi mengembalikan keseimbangannya.

Bila diartikan lebih dalam, ayat-ayat ini sampaikan pesan ke kita selalu untuk turut serta aktif membaca dan memerhatikan apa yang terjadi pada lingkungan kita. Antiknya, formasi empat ayat ini ditempatkan sesudah ayat-ayat yang mengulas keadaan surga yang ada permadani terbentang, gelas-gelas yang tersusun rapi, dan mempunyai mata air yang tetap mengucur. Penghayatan kita akan menjelaskan jika al-Qur'an sebenarnya memerintah kita untuk turut serta aktif memiara bumi agar bisa rasakan surga dunia saat sebelum tempati surga di akhirat kelak.

Peserta Jama'ah Jum'ah rahimakumullah

Lalu yang ke-3 , yang perlu kita kerjakan ialah menggerakkan rumor cuaca dan rumor lingkungan hidup jadi arus khusus dalam kurikulum pengajaran kita, dimulai dari pendidkan pra sekolah, sekolah dasar, pesantren-pesantren, sekolah umum, atau kampus. Seperti diutarakan oleh Fazlur Rahman, seorang pemikir Muslim sebagai guru Cak Nur: "Penyempurnaan pertimbangan Islam, bagaimana juga harus diawali di instansi pengajaran." Nach, menurut khatib penglihatan ini benar-benar pas, berkaitan dan kontekstual dengan keadaan kita sekarang ini.

Dalam periode panjang, kritis cuaca penting dimitigasi lewat pengajaran sejak awal kali. Pengarusutamaan rumor cuaca ke kurikulum instansi pengajaran harus juga diartikan sebagai usaha penyempurnaan kurikulum pengajaran dalam rencana memberi respon perubahan rumor termutakhir. Dengan begitu, menuntaskan kritis ekologi atau kritis lingkungan lewat pengajaran ialah sebuah kebenaran.

Barakallahu li wa lakum bil Qur’anil Azhim wa naf’ani wa iyyakum bima fihi minal ayati wa dzikril hakim wa taqabbala minni wa minkum tilawatahu innahu huwas sami’ul alim

 

KHUTBAH KEDUA

Alhamdulillahi rabbil alamin wa bihin nasta’inu ala umurid dunya wad dinn. Asyhadu an laa ilaha illaLlah wa asyhadu anna Muhammadan Rasulullah.

Hadirin Jama’ah Jum’ah rahimakumullah

Perkenankan khatib menambah satu point di khutbah ke-2 ini. Rumor kritis cuaca belum demikian terkenal dan jadi perhatian luas warga muslim di Indonesia. Sebagian besar kita semakin banyak memperdebatkan beberapa persoalan agama yang sedikit terkait langsung dengan kehidupan planet bumi. Beberapa topik pembicaraan masih diwarnai oleh beberapa hal yang bau diplomatisasi agama.

Telah waktunya rumor ini jadi ulasan khusus dalam forum-forum keagamaan, seperti pengajian, majelis taklim, atau khutbah Jum'at, bahkan juga di kehidupan setiap hari.

Meskipun begitu, kita pantas mengucapkan syukur, Muhammadiyah sebagai organisasi massa Islam yang mempunyai reputasi dan pengalaman panjang membuat dan memberi warna Indonesia sudah mengeluarkan beberapa buku penting berkaitan ini, antara yang bisa disebut salah satunya ialah buku teologi lingkungan, fikih air, selamatkan bumi lewat pembaruan adab dan pengajaran lingkungan, management kepimpinan lingkungan, dan akhlaq lingkungan. Rumor ini dimotori oleh Majelis Lingkungan Hidup Muhammadiyah dan Majelis Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah. Muhammadiyah ialah salah satu instansi keagamaan yang mempunyai perhatian dalam rumor ini.

Pernerbitan beberapa buku yang disebutkan barusan, sebagai usaha penting yang pantas dihargai dalam rencana mendidik warga untuk meredam dan hentikan kritis cuaca yang memberikan ancaman kita. Mudah-mudahan beberapa penulis dan seluruh pihak yang turut serta dalam penerbitan beberapa buku itu, dan semuanya orang yang perjuangkan keselamatan planet bumi selalu diberi keberkahan yang tidak pernah terputus. Ammin ya rabbal alamin

Ditutup dengan doa

Allahumma ighfir lil muslimin wal muslimat wal mu’minina wal mu’minat wal……

Rabbana atina fi dunya hasanah…..

Ibadallah Innal yamurukan bil adli wal ihsan…….

· Disampaikan dalam khutbah Jum’at online bersama Prof. Dr. Wawan Gunawan Abdul Wahid, pengurus Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, pada Jum’at 18 Desember 2020

Posting Komentar

0 Komentar

To Top