Apakah Wanita Haid Bisa Mendapatkan Lailatul Qadar?

Apakah Wanita Haid Bisa Mendapatkan Lailatul Qadar?

Apakah Wanita Haid Bisa Mendapatkan Lailatul Qadar?

Pertanyaan

Assalamu 'alaikum wr. wb.

Redaksi Bahtsul Masail NU Online yang kami hargai. Salah satunya kelebihan bulan Ramadhan ialah ada lailatul qadar, di mana pada lailatul qadar amal kebijakan atau beribadah yang sudah dilakukan didalamnya lebih bagus dibanding beribadah yang sudah dilakukan sepanjang seribu bulan.

Dalam kesempatan kali ini, kami akan bertanya mengenai nasib wanita yang haid, apa dia dapat memperoleh sisi dari lailatul qadar? Bagaimana triknya hidupkan lailatul qadar untuk wanita haid hingga dia bisa juga memperoleh kelebihannya seperti lainnya. Atas penuturannya kami berterima kasih.

Wassalamu 'alaikum wr. wb.

Jawaban

Assalamu 'alaikum wr. wb.

Penanya yang budiman, mudah-mudahan selalu dirahmati Allah swt. Bulan Ramadhan ialah bulan spesial. Satu diantaranya ialah karena pada bulan ini Allah swt. mengharuskan golongan Muslim yang sudah penuhi syarat untuk jalankan beribadah puasa. Kelebihan yang lain yang tidak diketemukan pada bulan-bulan lain ialah ada lailatul qadar.

Imam Ahmad bin Hanbal dan Imam An-Nasa'i meriwayatkan hadits dari kisah Abu Hurairah ra., yang memperjelas jika Rasulullah saw. bersabda: "Dalam bulan Ramadhan ada malam yang lebih bagus dari seribu bulan. Barangsiapa yang terhambat untuk memperoleh kebaikannya, karena itu benar-benar dia terhambat untuk mendapat kebaikannya."

Dalam Musnad Imam Ahmad bin Hanbal dan Sunan An-Nasai ada kisah dari Abu Hurairah ra. dari Nabi saw., jika beliau bersabda: "Dalam bulan Ramadhan ada malam yang lebih bagus dari seribu bulan. Barangsiapa yang terhambat untuk memperoleh kebaikannya, karena itu benar-benar dia terhambat untuk mendapat kebaikannya,'" (Saksikan Ibnu Rajab Al-Hanbali, Latha`iful Ma'arif fima Limawasimil ‘Am minal Wazha`if, Kairo, Darul Hadits, 1426 H/2005 M, halaman 264).

Apakah yang dimaksud dengan malam qadar itu lebih bagus dari seribu bulan ialah amal kebijakan yang sudah dilakukan saat malam itu nilainya melewati amal kebijakan yang sudah dilakukan sepanjang seribu bulan yang tidak ada malam qadarnya. Ini seperti keterangan dalam kitab tafsiran Bahrul ‘Ulum kreasi Abu al-Laits An-Naisburi berikut:

"Firman Allah swt: ‘Lailatul qadar itu lebih bagus dari seribu bulan' tujuannya ialah amal kebijakan yang sudah dilakukan pada lailatul qadar itu lebih bagus dibandingkan amal kebijakan sepanjang seribu bulan yang tidak berada di dalamnya lailatul qadar," (Saksikan Abu al-Laits as-Samarqandi, Bahrul ‘Ulum, Beirut, Darul Fikr, juz III, hal. 577).

Sampai di sini tidak ada masalah memiliki arti. Masalah baru ada bagaimana dengan nasib beberapa wanita yang alami haid atau nifas, di mana mereka terang pada keadaan tidak suci hingga dilarang shalat bahkan juga sentuh mushaf Al-Qur'an. Apa mereka bisa juga mendapat lailatul qadar seperti lainnya?

Pertanyaan berkenaan apa wanita haid dapat mendapat lailatur qadar bukan pertanyaan baru. Jauh sebelumnya Imam Juwaibir bin Said Al-Balkhi bertanya hal itu ke Imam Adh-Dhahhak.

Termasuk wanita yang nifas, bahkan juga orang yang tidur. Menurut Imam Adh-Dhahhak, mereka dapat memperoleh lailatul qadar. Karena tiap orang yang Allah swt. terima amalnya, karena itu Allah swt. akan memberikannya sisi dari lailatul qadar.

"Imam Jubair berbicara: ‘Aku pernah menanyakan ke Imam Adh-Dhahhak, bagaimana pendapatmu berkenaan wanita yang nifas, haid, orang yang melancong (musafir), dan orang tidur, apa mereka dapat mendapat sisi dari lailatul qadar?. Jawabannya, ya, mereka bisa mendapat sisi. Tiap orang yang Allah swt. terima amalnya, karena itu Allah swt. akan memberinya bagiannya dari lailatul qadar,'" (Saksikan Ibnu Rajab Al-Hanbali, Latha`iful Ma'arif fima Limawasimil ‘Am minal Wazha`if, hal. 264).

Penglihatan Imam Adh-Dhahhak ini terang memperlihatkan jika wanita yang haid sekalinya bisa mendapat lailatul qadar. Lalu pertanyaannya ialah bagaimana supaya ketila lailatul qadar dia dapat mendapat pahala yang banyak? Atau dalam bahasa lain, bagaimana wanita haid hidupkan atau isi lailatul qadar?

Untuk jawab pertanyaan paling akhir ini, sebaiknya kita saksikan bagaimana keterangan yang disampaikan Syekh Nawawi Banten dalam kitab Nihayatuz Zain berkenaan jenjang hidupkan lailatul qadar. Menurut Syekh Nawawi, minimal ada jenjang dalam hidupkan atau isi lailatul qadar, dari tingkat yang paling tinggi sampai yang paling rendah.

Pertama, hidupkan lailatul qadar dengan perbanyak shalat sunah. Ini ialah jenjang paling tinggi.

Ke-2 , hidupkan mayoritas lailaul qadar dengan perbanyak zikir. Ini ialah jenjang yang.

Ke-3 , tingkat paling rendah atau minimalis dengan lakukan shalat Isya dan Subuh berjemaah.

"Jenjang hidupkan lailatul qadar ada tiga. Yang paling tinggi ialah hidupkan lailatul qadar dengan shalat. Sedang jenjang yang ialah hidupkan lailatul qadar dengan zikir. Jenjang paling rendah ialah jalankan shalat Isya dan Subuh berjemaah," (Saksikan Syekh Nawawi Banten, Nihayatuz Zain, Beirut, Darul Fikr, hal. 198).

Dari ke-3 jenjang yang jelaskan Syekh Nawawi Banten ini, karena itu yang paling memungkinkannya dilaksanakan wanita yang haid untuk isi lailatul qadar hingga dia dapat memperolah bejibun dan banyak pahala ialah jenjang yang ke-2 , yakni isi lailatul qadar dengan perbanyak zikir, berdoa, dan beristighfar. Karena, jenjang pertama dan ke-3 tidak dapat diambil wanita yang haid.

Selanjutnya Syekh Nawawi Banten memperjelas jika amal kebijakan atau beribadah yang sudah dilakukan pada lailatul qadar lebih bagus dibanding amal kebijakan yang sudah dilakukan sepanjang seribu bulan.

Bahkan juga, menurut opini yang bisa dipertanggungjawabkan atau mu'tamad, aktor kebijakan yang sudah dilakukan pada lailatul qadar akan mendapat kelebihan lailatul qadar walau dia tidak dapat ketahui atau menyaksikan fenomena lailatul qadar, biarpun keadaan orang yang ketahuinya itu pasti lebih prima. Begitu seperti disampaikan Syekh Nawawi Banten.

Amal kebijakan atau beribadah yang sudah dilakukan pada lailatul qadar itu lebih bagus dibanding amal kebijakan yang sudah dilakukan sepanjang seribu bulan. Dan menurut opini yang mu'tamad aktornya akan memperoleh kelebihan lailatul qadar, walau dia tidak ketahui atau menyaksikan fenomena lailatul qadar. Biarpun kondisi orang yang ketahuinya itu pasti lebih prima," (Syekh Nawawi Banten, Nihayatuz Zain, hal.198).

Begitu jawaban yang bisa kami jelaskan. Mudah-mudahan dapat dimengerti secara baik. Kami selalu terbuka untuk terima anjuran dan kritikan dari beberapa pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq,

Wassalamu 'alaikum wr. wb.

Sumber: nu.online

Posting Komentar

0 Komentar

To Top