Benarkah Meninggal di Hari Jumat dan Rabu Memiliki Keutamaan?

Benarkah Meninggal di Hari Jumat dan Rabu Memiliki Keutamaan?

Benarkah Meninggal di Hari Jumat dan Rabu Memiliki Keutamaan?

Lights Islam - Ada pengetahuan dalam masyarakat berkaitan wafat di saat tertentu mempunyai kelebihan dan tanda yang bagus, salah satunya ialah hari rabu dan jumat. Lantas bagaimana sebetulnya Islam melihat kematian di 2 hari itu?

Persoalan kelebihan wafat pada hari Jum'at, ialah terhitung persoalan ghaib yang oleh agama Islam cuman diperbolehkan yakin pada argumentasi yang bersandarkan pada dalil-dalil sam'iy-naqliy (yang tiba dari al-Qur'an dan as-Sunnah). Dalam soal yang terhitung kasus ghaib, kita tidak dikenankan untuk membikin narasi atau yakini suatu hal terkecuali berdasar info langsung dari nash al-Qur'an atau as-Sunnah. Tidak ada ruangan untuk kita untuk lakukan analogi dan memakai akal untuk ketahui persoalan-permasalahan ghaib. Allah SWT sudah berfirman:

لْ لَا أَقُولُ لَكُمْ عِنْدِي خَزَائِنُ اللَّهِ وَلَا أَعْلَمُ الْغَيْبَ وَلَا أَقُولُ لَكُمْ إِنِّي مَلَكٌ إِنْ أَتَّبِعُ إِلَّا مَا يُوحَى إِلَيَّ قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الْأَعْمَى وَالْبَصِيرُ أَفَلَا تَتَفَكَّرُونَ (الأنعام، 6: 50)


Artinya: “Katakanlah: Aku tidak mengatakan kepadamu, bahwa perbendaharaan Allah ada padaku, dan tidak (pula) aku mengetahui yang gaib dan tidak (pula) aku mengatakan kepadamu bahwa aku seorang malaikat. Aku tidak mengikuti kecuali apa yang diwahyukan kepadaku. Katakanlah: Apakah sama orang yang buta dengan orang yang melihat? Maka apakah kamu tidak memikirkan(nya)?” (QS. al-An’am: 50)

Nabi Muhammad saw juga telah bersabda:

مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ. (رواه البخاري ومسلم)

Artinya: “Barangsiapa mengada-adakan dalam urusan (agama) kami ini sesuatu yang bukan berasal darinya maka ia tertolak.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Dalam riwayat lain disebutkan:

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ (رواه مسلم)


Artinya: “Barangsiapa mengerjakan suatu amalan yang tidak berdasar pada urusan (agama) kami, maka amalan itu tertolak.” (HR Muslim)

Mengenai pertanyaan keutamaan meninggal di hari Rabu, kami telah meniliti sejumlah kitab-kitab hadis dan mencari kemungkinan adanya keterangan dari Nabi saw tentang keistimewaan meninggal pada hari tersebut. Namun kami tidak menemukan keterangan sama sekali yang menjawab pertanyaan saudara. Dengan demikian, jika berkembang di masyarakat suatu kepercayaan mengenai keutamaan meninggal di hari Rabu, maka ia merupakan kepercayaan yang tidak berdasar sama sekali.

Mengenai keutamaan meninggal pada hari Jum’at, terdapat sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidzi.

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- : مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَمُوتُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ أَوْ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ إِلاَّ وَقَاهُ اللَّهُ فِتْنَةَ الْقَبْرِ (رواه الترمذي)


Artinya: “Diriwayatkan dari Abdullah bin ‘Amr, ia berkata: Rasulullah saw bersabda: “Tidaklah seorang muslim meninggal pada hari Jumat atau malam Jumat kecuali Allah akan melindunginya dari adzab kubur.” (Sunan at-Tirmidzi/vol. III/hadis ke 1074)

Selengkapnya sanad dari hadis ini ialah: at-Tirmidzi à Muhammad bin Basysyar à Abdurrahman bin Mahdi dan Abu Amir al-Aqadi à Hisyam bin Sa'ad à Sa'id bin Abi Hilal à Rabiah bin Saif à Abdullah bin Amr bin Ash.

Beberapa ulama hadis berlainan opini mengenai status hadis ini. Imam at-Tirmidzi (w. 360 H) sendiri yang meriwayatkan hadis ini dalam kitab Sunan at-Tirmidzi menilainya sebagai hadis gharib (karena diriwayatkan oleh seseorang saja) dan munqathi' karena sanadnya tidak berlanjut (laisa bi muttashil). Menurut dia, figur yang namanya Rabiah bin Saif (w. 120 H) dari angkatan tabiut tabiin yang meriwayatkan hadis ini tak pernah berjumpa dengan teman dekat Nabi Abdullah bin Amr bin Ash (w. 63 H), hingga ada satu perawi dari jenjang tabiin yang lenyap. Status gharib yang diberi oleh at-Tirmidzi ini selanjutnya dilanjutkan oleh Ibnu Bantai al-Asqalani (w. 852 H) seorang ulama hadis yang meninggal dunia di Mesir dengan cap dhaif dalam kitabnya Fathul-Bari (vol. IV/hal. 467).

Berkenaan status munqathi (terputus perawi dari kelompok tabiin) pada hadis ini, berdasar riset kami diketemukan jika sebenarnya Imam at-Tirmidzi dalam kitabnya lainnya, Nawadir al-Ushul (sebuah kitab hadis yang mengkompilasi hadis-hadis dhaif), meriwayatkan hadis ini secara muttashil (berlanjut). Nama figur dari angkatan tabiin yang berjumpa dengan Rabiah bin Saif dan meriwayatkan hadis dari Abdullah bin Amr bin Ash yang awalnya lenyap dalam Sunan at-Timidzi ialah Iyadh bin Aqabah al-Fihri dan Ali bin Ma'badh (at-Tirmidzi, Nawadir al-Ushul, vol. IV, hal. 161). Imam al-Qurtubhi (w. 671 H) dalam at-Tadzkirah (hal. 167) dan Ibnu Qayyim (w. 751 H) dalam ar-Ruh (hal. 161) demikian pula menentang status munqathi untuk hadis ini.

Tetapi, bila hadis ini selamat dari tadh'if (pendaifan) dari faktor ketersambungan mata rantai perawinya (ittishal as-sanad), hadis ini rupanya masihlah mempunyai masalah lain, yakni dari segi integritas perawi. Dari serangkaian beberapa perawi tertera di atas, Saif bin Rabi'ah ialah figur yang memiliki masalah di kelompok ulama hadis. Imam al-Bukhari memberinya komentar jika kepadanya ada kemunkaran (lahu manakir) (saksikan at-Tarikh al-Kabir, vol. III, hal. 290). Ibnu Hibban mengatakan kana yukhtiu katsiran (dia berbuat banyak keliru dalam meriwayatkan hadis) (saksikan ats-Tsiqat, vol. VI, hal. 301). Komentar Ibnu Yunus padanya sama dengan komentar al-Bukhari, dan an-Nasai lemahkan hadis-hadisnya (Ibnu Bantai al-Asqalani, Tahdzibu al-Tahdzib, vol. III, hal. 221, adz-Dzahabi, Mizan al-I'tidal fi Naqdi ar-Rijal, vol. III, hal. 67).

Hadis yang sama dengan sedikit ketidaksamaan redaksi diriwayatkan oleh Ahmad (w. 241 H) dalam Musnad (hadis ke-6582, 7050), Abu Ya'la dalam Musnad (hadis ke-4113) dan Abd bin Humaid dalam Musnad-nya (hadis ke-323). Tetapi, karena hadis-hadis itu dengan status dlaif, karena itu dia tidak dapat mengusung derajat hadis ini naik jadi hasan. Pada hadis-hadis yang diriwayatkan oleh Ahmad dan Abd bin Humaid ada figur ada yang namanya Baqiyah bin Walid yang ditanggapi oleh Ibnu Bantai jika hadis-hadisnya munkar (karena dia kerap lupa atau banyak lakukan kekeliruan atau seorang fasik) dan dia banyak sembunyikan cacat hadis (mudallis) (Lisan al-Mizan, vol. VI, hal. 184, Tabaqah al-Mudallisin, vol. I, hal. 49). Dalam sanad Abu Ya'la ada Yazid ar-Raqasyi yang ditanggapi pakar hadis jika dia ialah seseorang yang selalu terobsesi dengan tindakan beribadah dan beberapa kalimat yang bagus, tetapi sangat sayang dia tidak mempunyai kekuatan ketahui dan membandingkan yang mana hadis dan yang mana bukan hadis (Ibnu Abi Hatim, al-Majruhin, vol. 3, hal. 98)

Selainnya dari segi sanad-nya, hadis itu mempunyai keganjilan dari faktor matan (isi) nya. Keganjilan itu karena dia berlawanan dengan kemahaadilan Allah. Permasalahan keterbebasan dari hukuman pendam tergantung dengan amal beribadah seorang hamba sepanjang hidup di dunia, tidak pada waktu kapan dia wafat. Dalam al-Qur'an banyak ditegaskan perintah supaya perbanyak amal saleh di dunia, karena akan diambil hasilnya di akhirat nantinya. Oleh karenanya, bila ada orang yang saat hidupnya ialah aktor maksiat, lalu karena hanya dia wafat di hari Jum'at dan memiliki hak terima pembebasan dari hukuman pendam, dia memiliki arti sudah terima suatu hal yang tidak sesuai amalannya di dunia. Kebalikannya, seorang hamba Allah yang saleh, karena dia tidak wafat pada hari Jum'at dia tidak memperoleh pengampunan dari hukuman pendam. Sudah pasti Allah SWT terlindungi dari ketidakadilan itu, karena Allah SWT sudah berfirman:

فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ . وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ . (الزلزلة، 99: 7-8)


Artinya: “Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.” (QS. al-Zalzalah: 7-8)

Di tempat lain Allah SWT juga berfirman:

وَاتَّقُوا يَوْمًا تُرْجَعُونَ فِيهِ إِلَى اللَّهِ ثُمَّ تُوَفَّى كُلُّ نَفْسٍ مَا كَسَبَتْ وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ (البقرة، 2: 281)


Artinya: :”Dan peliharalah dirimu dari (azab yang terjadi pada) hari yang pada waktu itu kamu semua dikembalikan kepada Allah. Kemudian masing-masing diri diberi balasan yang sempurna terhadap apa yang telah dikerjakannya, sedang mereka sedikit pun tidak dirugikan” (QS. al-Baqarah: 281)

Dalam kaedah hadis disebutkan bahwa suatu hadis hanya bisa diterima jika ia tidak bertentangan dengan pokok-pokok ajaran Islam.

إِذَا رَأَيْتَ الْحَدِيْثَ يُبَايِنُ اْلمَعْقُوْلَ أَوْ يُخَالِفُ الْمَنْقُوْلَ أَوْ يُنَاقِضُ الْأُصُوْلَ فَاعْلَمْ أَنَّهُ مَوْضُوْعٌ


Artinya: “Jika engkau melihat satu hadis yang bertentangan dengan akal sehat, menyelisihi nash (yang lebih sahih) dan bertentangan (menabrak) pokok-pokok agama, maka ketahuilah ia adalah hadis yang palsu (maudhu’)” (as-Suyuthi, Tadribu ar-Rawi, vol. I, hal. 277, Albani, Irwau al-Ghalil, vol. IV, hal. 112).

Kesimpulannya, keutamaan meninggal di hari Rabu tidak ada dasarnya sama sekali, dengan demikian tidak dapat dipercayai. Adapun keutamaan meninggal di hari Jum’at dasarnya lemah, sehingga tidak dapat dijadikan hujjah (argumentasi).

Wallahu A’lam bish-shawab.

Posting Komentar

0 Komentar

To Top