Adab Bepergian Menurut Islam

Adab Bepergian Menurut Islam


Lights Islam -  Jalan ialah tempat untuk jalan raya orang dan kendaraan. Pada zaman Rasulullah jalan telah ada dan semakin banyak dilewati beberapa orang berjalan kaki. Yang berkendara terbatas memakai keledai, unta, dan kuda. Sekarang sudah sedikit yang memakai hewan tunggangan di jalan raya, sudah diganti oleh sepeda, sepeda motor, mobil, kereta, dan kendaraan kekinian yang lain. Jalanpun sudah dibagi menurut yang bisa melalui. Ada jalan khusus orang berjalan kaki, jalan khusus sepeda, jalan khusus mobil, dan jalan dapat dilalui beragam tipe kendaraan.

Peranan jalan makin hari makin penting karena makin beberapa orang ada di jalan untuk beragam kepentingan, misalnya: bekerja, bersekolah, berbelanja, wisata, berkunjung sanak-saudara, berdakwah, dan lain-lain. Karena sangat jumlahnya orang yang lewat jalan kita melihat banyak jalanan yang padat dan bahkan macet.

Di Jakarta jalanan macet telah terbiasa dan bisa dilihat nyaris tiap hari, khususnya saat orang pergi dan pulang. Di beberapa kota besar yang lain seperti Medan, Bandung, Yogyakarta, Surabaya, Makassar, Samarinda, dan lain-lain kemacetan sudah juga berasa. Bertambahnya jumlah kendaraan dan orang yang melalui jalan lebih cepat dibanding dengan bertambahnya luas dan panjang jalan. Kemacetan lebih menjadi-jadi saat banyak pemakai jalan yang melakukan perbuatan seenaknya, tidak teratur, dan meremehkan ketentuan jalan raya hingga jalanan yang telah padat jadi macet.

Pada beberapa daerah di mana kemacetan umum terjadi, saat yang dihabiskan di jalan makin banyak. Ada yang sampai rerata 5 jam setiap hari serta lebih. Pasti jadi lebih lama saat ada banjir, demonstrasi, pembaruan jalan, dan halangan-halangan yang lain. Seluruh orang tentu suka jika perjalanannya lancar tanpa rintangan apa saja.

الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِيَّاكُمْ وَالْجُلُوسَ عَلَى الطُّرُقَاتِ فَقَالُوا مَا لَنَا بُدٌّ إِنَّمَا هِيَ مَجَالِسُنَا نَتَحَدَّثُ فِيهَا قَالَ فَإِذَا أَبَيْتُمْ إِلَّا الْمَجَالِسَ فَأَعْطُوا الطَّرِيقَ حَقَّهَا قَالُوا وَمَا حَقُّ الطَّرِيقِ قَالَ غَضُّ الْبَصَرِ وَكَفُّ الْأَذَى وَرَدُّ السَّلَامِ وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ وَنَهْيٌ عَنْ الْمُنْكَرِ


Dari Abu Sa’id Al Khudri RA,  dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Janganlah kalian duduk duduk di pinggir jalan”. Mereka bertanya: “Itu kebiasaan kami yang sudah biasa kami lakukan karena itu menjadi majelis tempat kami bercengkrama”. Beliau bersabda: “Jika kalian tidak mau meninggalkan majelis seperti itu maka tunaikanlah hak jalan tersebut”. Mereka bertanya: “Apa hak jalan itu?” Beliau menjawab: “Menundukkan pandangan, menyingkirkan halangan, menjawab salam, menganjurkan kebaikan, mencegah kemungkaran “(Kitab Bukhari HN 2285, Kitab uslim HN 3960, Kitab Ahmad HN 10883) 

Demikian keutamaan peranan jalan, Islam atur bagaimana adat sepanjang ada di jalan. Rasulullah larang kita ada di jalan terkecuali untuk masalah penting dan bisa menjalankan hak-hak jalan. Kita harus jaga jalan supaya lancar dilewati.

Menjalankan hak jalan sebagai adat paling penting sepanjang kita ada di jalan. Antara hak jalan diantaranya:

Menundukkan Pandangan (ghadhul bashar)

Allah berfirman dalam al-Qur’an:

قُل لِّلۡمُؤۡمِنِينَ يَغُضُّواْ مِنۡ أَبۡصَـٰرِهِمۡ وَيَحۡفَظُواْ فُرُوجَهُمۡ‌ۚ ذَٲلِكَ أَزۡكَىٰ لَهُمۡ‌ۗ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرُۢ بِمَا يَصۡنَعُونَ (٣٠)وَقُل لِّلۡمُؤۡمِنَـٰتِ يَغۡضُضۡنَ مِنۡ أَبۡصَـٰرِهِنَّ وَيَحۡفَظۡنَ فُرُوجَهُنَّ


“Katakanlah kepada laki-laki beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluan mereka, yang demikian itu lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah maha mengetahui apa yang mereka perbuat. “Dan Katakanlah kepada wanita-wanita mukminat: ”Hendaklah mereka menahan pandangan mereka, dan memelihara kemaluan mereka.…” (QS An-Nur ayat 31-32)

Kata ghadhu memiliki arti tundukkan atau kurangi. Menurut Quraish Shihab "Tafsiran al-Misbah" volume 9 hal 324, yang diartikan dengan ghadhul bashar ialah mengubah arah penglihatan, dan tidak menguatkan penglihatan pada waktu lama ke suatu hal yang terlarang atau mungkin kurang baik.

Di jalan beberapa hal tidak bagus yang dapat ditemui, intinya aurat. Dibandingkan lelaki, wanita semakin banyak yang biarkan beberapa auratnya terbuka. Secara mudah bisa ditemui wanita-wanita yang biarkan kepalanya, lehernya, lengannya, dan kakinya terbuka. Bahkan juga cukup banyak yang buka beberapa dada, perut, dan pahanya. Adapula yang walau tutup auratnya tapi dengan baju ketat hingga lekak lekuk badannya kelihatan secara jelas. Jika memungkinkannya, jauhi jalanan yang banyak beberapa hal tidak bagus. Jika tidak dapat, harus tundukkan penglihatan.

Tundukkan penglihatan atas aurat yang terbuka dilaksanakan dengan selekasnya mengubah perhatian ke objek dan arah lainnya. Janganlah sampai justru menikmatinya dengan lama-lama memandang, apa lagi memberinya bujukan dengan berdecak, bersiul, bersuit-suit, atau ajak kenalan agar bisa menyaksikan semakin lama. Cukup dengan menyaksikan sekilas selanjutnya berakhir atau diamkan mereka berakhir.

Dari Abu Zur'ah bin Amru bin Jarir dia berbicara, Jarir berbicara; Saya menanyakan ke Rasulullah SAW berkenaan melihat wanita yang tidak dilaksanakan dengan menyengaja (kebenaran), karena itu beliau juga memerintahku supaya mengubah penglihatan. (Kitab Ahmad, HN 18369)

Janganlah sampai wanita baik berasa risih atau terusik oleh tindakan dan pengucapan kita. Diamkan mereka bisa melalui jalan dengan penuh keamanan dan kehormatan.

Perintah jaga penglihatan dihubungkan dengan perintah memiara kemaluan. Melihati aurat bisa menghidupkan gairah seksual. Biarkan diri lama-lama melihati aurat seseorang, berpengaruh lemahkan benteng pertahanan iman dan longgarkan kendalian atas gairah seksual.

Tundukkan penglihatan sebagai gestur karakter rendah hati, jaga diri, menghargai seseorang dan tidak tinggi hati. Perintah tundukkan penglihatan kita kerjakan dengan jaga diri dari tindakan maksiat dan sikap tinggi hati dan menghargai sama-sama pemakai jalan.

Menyingkirkan halangan (kafful adza)

Halangan di jalan ada yang terjadi akibat perbuatan kita dan ada yang karena pihak lain.

Menghindari diri jadi rintangan

Yang pertama kali harus kita kerjakan saat ada di jalan ialah menghindari diri jadi sisi dari rintangan jalan. Seorang muslim ialah orang yang selalu jaga beberapa orang muslim selamat dari lisan dan tindakannya (HR Bukhari, Muslim, Ahmad, An-Nasa'i, Abu Dawud, dan ad-Darimi).

Beberapa aktivitas yang kerap jadi rintangan jalan diantaranya:

Mengadakan acara di pundak atau tubuh jalan

Larangan Rasulullah supaya tidak sekedar duduk di tepi jalan karena mungkin kekuatiran beliau akan berlangsungnya masalah peranan jalan sebagai fasilitas untuk beberapa pengguna jalan saat lakukan peralihan dari satu tempat ke arah tempat lain. Beliau memberinya dispensasi cuman jika hak-hak jalan bisa dijaga.

Mengadakan acara seperti acara pesta pernikahan, atraksi, atau yang lain dengan membuat pentas atau tenda di beberapa tubuh jalan, seharusnya tidak dilaksanakan, karena bisa mengakibatkan kemacetan atau sedikitnya membuat perjalanan orang terusik.

Parkir asal-asalan

Memarkir kendaraan yang menyebabkan terhambatnya perjalanan seseorang terhitung tindakan ambil hak jalan:

Parkir di pinggir lajur berputar-putar ambil hak jalan kendaraan yang kembali arah. Parkir di jalanan sempit ambil hak jalan kendaraan yang melalui jalan itu. Parkir di muka pintu garasi seseorang ambil hak jalan kendaraan tuan-rumah. Parkir di kelokan mengakibatkan pemakai jalan yang lain ada dalam bahaya.

Sebaiknya memarkir kendaraan di lokasi yang aman, tidak mengusik dan mencelakakan perjalanan seseorang

Meremehkan ketentuan dan rambu-rambu jalan raya

Ketentuan dan rambu-rambu jalan raya dibikin untuk kelancaran dan keamanan berakhir lintasi. Mengabaikannya saat di jalan berpengaruh terusiknya lalulintas kendaraan dan keamanan pemakai jalan.

Laluilah lajur jalan sebagai hak Anda, tidak boleh ambil lajur sebagai hak seseorang karena mencelakakan seseorang dan diri kita.

Saat Anda ingin belok ke kanan di muka trafik light, tempat antrean Anda di lajur paling kanan. Jika Anda ambil lajur kiri, Anda ambil hak kendaraan yang ingin jalan lempeng dan Anda sudah lakukan tindakan yang mencelakakan.

Di tikungan ada marka jalan di tengah berbentuk garis tidak putus-putus, hak Anda melalui lajur samping kiri garis. Jalankan kendaraan sampai keluar garis memiliki arti ambil hak jalan kendaraan yang dari arah bersimpangan dan jadi kekuatan bahaya.

Melalui lajur yang bukan hak Anda, memiliki arti sudah ambil hak jalan seseorang.

Singkirkan rintangan yang berada di jalan

Singkirkan rintangan yang mengusik perjalanan orang dan kendaraan ialah ibadah mulia.

Dari Abu Hurairah ia berbicara, "Rasulullah SAW. bersabda: "Iman itu ada tujuh puluh tiga sampai tujuh puluh sembilan, atau enam puluh tiga sampai enam puluh sembilan cabang. Yang paling penting ialah pengucapan, LAA ILAAHA ILLALLAHU (Tidak ada tuhan yang memiliki hak disembah selainnya Allah). Dan yang terendah ialah singkirkan masalah dari jalan. Dan malu itu ialah bagian dari iman." (Kitab Muslim HN 51. Kitab Nasa'i HN 4919).

Singkirkan rintangan di jalan sebagai ibadah yang berharga sedekah. Dari Abu Dzar dari Nabi SAW. beliau bersabda: "Tiap hari tiap sendi anak Adam harus disedekahi, salam yang dikasih ke orang yang ditemuinya ialah sedekah, tiap perintahnya ke kebaikan ialah sedekah, tiap larangannya dari yang munkar ialah sedekah, buang hal yang mengusik jalan ialah sedekah, dan persetubuhannya dengan isteri ialah sedekah." (Kitab Abu Daud HN 4564).

Nabi bersabda: "Kamu bisa juga bersedekah, kamu singkirkan tulang dari jalan ialah sedekah, memperlihatkan jalan ialah sedekah, membantu orang yang kurang kuat dengan kelebihan kemampuan yang kamu punyai ialah sedekah, keteranganmu ke orang yang kebingungan ialah sedekah dan persetubuhanmu dengan istrimu ialah sedekah." (Kitab Tirmidzi HN 1879).

Dari Abu Hurairah jika Rasulullah SAW. bersabda: "Saat lelaki sedang jalan dan mendapati ranting berduri di tengah-tengah jalan, selanjutnya ia singkirkan ranting itu sampai Allah juga mengucapkan syukur padanya lalu memaafkan dosa-dosanya." (Kitab Muslim HN 3538).

Menjawab Salam

Ada di jalan tingkatkan kesempatan bertemu seseorang. Antara adat berjumpa ialah ucapkan salam. Anda dapat memberikan atau terima salam. Menjawab salam ialah harus. Hak jalan orang yang melalui disekitaran Anda ialah memperoleh jawaban atas salam yang mereka beri untuk Anda.

Menyarankan Kebaikan

Banyak tindakan baik yang dapat dilaksanakan di jalan, misalkan membantu orangtua atau anak-anak seberang jalan, membantu orang yang alami kecelakaan di jalan, menolong ibnu sabil yang kekurangan perbekalan, membantu orang yang kendaraannya berhenti, memperlihatkan jalan orang yang salah jalan, dan lain-lain. Anda bisa juga berdakwah di jalan.

Menahan Kemungkaran

Banyak kemungkaran yang dapat terjadi di jalan, misalnya: pencurian, pencopetan, kebut-kebutan, parkir asal-asalan, pelanggaran rambu dan ketentuan jalan raya, buka aurat, melakukan perbuatan tidak pantas, dan sebagainya.

Selama berada di jalan, sedapat mungkin kita mencegah terjadinya kemungkaran tersebut sesuai kemampuan.

:قَالَ أَبُو سَعِيدٍ
سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ رَأَى مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ


Abu Sa’id berkata, “Saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabada: “Barang siapa yang melihat kemungkaran maka hendaknya ia mengubahnya dengan tangannya dan apabila ia tidak mampu maka dengan lidahnya dan apabila tidak mampu maka dengan hatinya dan yang demikian itu adalah selemah-lemah iman.” (HR Musim, Abu Dawud, an-Nasa’i, Ibnu Majah, Ahmad).

Dari hadits tersebut kita mengetahui bahwa ada 3 tingkatan mencegah kemungkaran:

Pertama, mencegah atau merubah kemungkaran dengan tangan, yang maksudnya adalah dengan kekuasaan. Nahi mungkar derajat ini bisa dilakukan oleh orang-orang yang memiliki kekuasaan. Di jalan yang punya kekuasaan adalah polisi dan petugas dinas perhubungan. Bagi pak polisi bila melihat penjambretan, perampokan, pelecehan, ia harus menangkap pelakunya dan memrosesnya sesuai hukum yang berlaku. Melihat orang kebut-kebutan harus menghentikan. Melihat orang parkir sembarangan harus mengingatkan dan menyuruh segera memindahkan kendaraannya ke tempat yang seharusnya atau bila perlu menilang atau menderek. Dan terhadap pelanggar aturan dan rambu lalu lintas harus mengingatkan atau menilang.

Mereka yang diberikan kuasa di jalan mempunyai andil besar dalam menjaga hak-hak jalan sehingga lalu lintas menjadi lancar dan tertib.

Kedua, orang yang tidak memiliki kekuasaan,  bernahi munkar dengan lisannya. Misalnya melihat ada yang dijambret, ia berteriak: “jambret!” dengan harapan agar orang-orang yang mendengar berdatangan membantu, atau mencatat ciri-ciri penjambret dan plat nomor kendaraannya dan melaporkannya kepada polisi. Menyaksikan ada yang parkir sembarangan bertindak dengan menunjukkan tempat parkir yang seharusnya, dll.

Ketiga, orang yang tidak berani mencegah kemungaran dengan lisan, harus melakukan dengan hati, yakni dengan membenci perbuatan kemungkaran yang disaksikannya dan tidak mau terlibat dalam bentuk apapun dengan kemungkaran tersebut. Orang yang hanya berani bernahi munkar dengan hatinya saja, termasuk dalam kategori selemah-lemahnya iman. Melihat orang dijambret tidak berani berteriak, ia hanya bicara dalam hari: “masya Allah, teganya orang menjambret”. Melihat orang parkir hingga mengganggu  arus lalu lintas, tidak berani mengingatkan. dll

 Menunjukkan jalan kepada orang yang bertanya

:عَنْ جَابِرٍ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا اسْتَشَارَ أَحَدُكُمْ أَخَاهُ فَلْيُشِرْ عَلَيْهِ


Dari Jabir dia berkata; Rasulullah SAW. bersabda: “Apabila salah seorang dari kalian meminta petunjuk kepada saudaranya, hendaklah ia menunjukkan jalan yang benar.” (Kitab Ibnu Majah HN 3737).

Menunjukkan jalan bagi orang yang bertanya atau tersesat merupakan bagian dari hak jalan dan bernilai sedekah. Nabi bersabda: “Kamu juga bisa bersedekah, ………… menunjukkan jalan adalah sedekah, ……….. penjelasanmu kepada orang yang bingung adalah sedekah, ……….(HR Abu Dawud).
 

Tidak membuang hajat di jalan:

:عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ اتَّقُوا اللَّعَّانَيْنِ قَالُوا وَمَا اللَّعَّانَانِ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ الَّذِي يَتَخَلَّى فِي طَرِيقِ النَّاسِ أَوْ فِي ظِلِّهِمْ

Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jauhilah kalian dari La’anaini.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, siapa La’anini itu?” Beliau menjawab: “Orang yang buang hajat di jalan manusia atau di tempat berteduhnya mereka.” (Kitab Muslim HN 397).

Mengotori jalan dengan kotoran padat atau cair merupakan perbuatan terlaknat yang sangat mengganggu kenyamanan orang di jalan. Apalagi pada tempat yang sering dilalui atau tempat orang berteduh atau beristirahat seperti di halte, bawah pohon, dan lain-lain. Hindarilah mengotori jalan dengan apapun, termasuk membuang sampah.

Wallahu a’lam

Posting Komentar

0 Komentar

To Top