Hukum Membuat dan Menggunakan Jimat

Hukum Membuat dan Menggunakan Jimat

Hukum Membuat dan Menggunakan Jimat

Lights Islam - Seluruh orang di dunia inginkan peruntungan dan keselamatan hingga manusia jalankan banyak langkah untuk memperolehya. Dalam mengupayakan keselamatan dan peruntungan manusia mengenali jimat, dukun, dll. Ini berlawanan dengan konsep Islam yang yakini Allah sebagai salah satu pemberi keselamatan, lalu bagaimana sebetulnya penglihatan Islam mengenai jimat?

Jimat adalah satu benda yang dikasih mantera atau doa atau rajah (lambang) atau tulisan tertentu hingga dipercaya memiliki kemampuan, kedahsyatan atau kesaktian tertentu yang dipakai untuk arah-tujuan tertentu. Yang diartikan dengan benda di sini adalah benda atau barang apa seperti kalung, akik, cincin, keris, kain kafan, rambut dan ada banyak yang lain. Mantera, doa, rajah, atau tulisan tertentu di sini umumnya sulit dimengerti oleh orang pemula, walau ada pula sebagiannya yang dapat dipahami. Ada yang menggunakan bahasa Arab dan ada juga yang memakai bahasa yang lain. Kemampuan, kedahsyatan atau kesaktian tertentu di sini seperti menampik bahaya/sichir/penyakit, membuat tahan dan datangkan rejeki dan sebagainya. Arah-tujuan tertentu di sini sebagaimana untuk menambahkan kecantikan atau ketampanan muka, membuat badan tahan, menambahkan kekayaan dan yang lain.

Beberapa ulama setuju jika membuat, memiliki atau memercayai jimat untuk maksud tertentu seperti penglarisan, kecantikan, kebal dan yang lain itu terhitung tindakan syirik atau menyekutukan Allah dengan selain-Nya. Ini karena orang itu selainnya yakini Allah, dia yakini benda atau barang yang dia anggap jimat itu dapat memberikan faedah atau menampik madharat. Walau sebenarnya yang dapat memberikan faedah dan menghindari madharat cuman Allah saja, seperti dalam firman-Nya berikut:

وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ قُلْ أَفَرَأَيْتُمْ مَا تَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ أَرَادَنِيَ اللَّهُ بِضُرٍّ هَلْ هُنَّ كَاشِفَاتُ ضُرِّهِ أَوْ أَرَادَنِي بِرَحْمَةٍ هَلْ هُنَّ مُمْسِكَاتُ رَحْمَتِهِ قُلْ حَسْبِيَ اللَّهُ عَلَيْهِ يَتَوَكَّلُ الْمُتَوَكِّلُونَ

Artinya: “Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?” Niscaya mereka menjawab: “Allah”. Katakanlah: “Maka terangkanlah kepadaku tentang apa yang kamu seru selain Allah, jika Allah hendak mendatangkan kemudharatan kepadaku, apakah berhala-berhalamu itu dapat menghilangkan kemudharatan itu, atau jika Allah hendak memberi rahmat kepadaku, apakah mereka dapat menahan rahmat-Nya?” Katakanlah: “Cukuplah Allah bagiku”. Kepada-Nyalah bertawakkal orang-orang yang berserah diri”. (QS. az-Zumar: 38)

Syirik itu adalah dosa paling besar menurut ajaran Islam. Jika dosa syirik ini dibawa sampai mati, maka tidak akan diampuni oleh Allah Ta’ala. Allah berfirman:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا


Artinya: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (QS. an-Nisa’: 48)

Hal ini ditegaskan lagi oleh Allah Ta’ala dalam firman-Nya yang lain:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا بَعِيدًا


Artinya: “Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan )sesuatu) dengan Dia, dan Dia mengampuni dosa yang selain syirik bagi siapa yang dikehenda‘ki–Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan )sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya.” (QS. an-Nisa’: 116)

Dalam masalah jimat ada beberapa hadis yang jelas-jelas melarangnya dan bahkan mengharamkannya, yaitu antara lain sebagai berikut:

عَنْ عَبْدِ اللهِ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: إِنَّ الرُّقَى وَالتَّمَائِمَ وَالتِّوَلَةَ شِرْكٌ. )رواه أبو داود)


Artinya: “Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya ruqyah (yang tidak syar’i), jimat, dan pelet itu syirik”.” (HR. Abu Dawud)

عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ الْجُهَنِيِّ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَقْبَلَ إِلَيْهِ رَهْطٌ فَبَايَعَ تِسْعَةً وَأَمْسَكَ عَنْ وَاحِدٍ فَقَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ بَايَعْتَ تِسْعَةً وَتَرَكْتَ هَذَا، قَالَ: إِنَّ عَلَيْهِ تَمِيمَةً، فَأَدْخَلَ يَدَهُ فَقَطَعَهَا فَبَايَعَهُ، وَقَالَ: مَنْ عَلَّقَ تَمِيمَةً فَقَدْ أَشْرَكَ. ) رواه أحمد)


Artinya: “Diriwayatkan dari Uqbah bin Amir al-Juhani bahwa ada beberapa orang menghadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka beliau membaiat sembilan orang dan enggan membaiat satu orang. Maka para sahabat berkata: “Wahai Rasulullah, engkau membaiat sembilan dan meninggalkan yang satu ini.” Beliau bersabda: “Sungguh dia mempunyai jimat”, beliau memasukkan tangannya lalu memotong jimat tersebut dan bersabda: “Barangsiapa menggantungkan jimat maka ia telah syirik”.” (HR. Ahmad)

Berdasarkan hadis-hadis di atas jelaslah bahwa jimat itu dilarang bahkan diharamkan karena termasuk salah bentuk syirik atau menyekutukan Allah dengan selain-Nya.

Wallahu a’lam bish-shawab

Posting Komentar

0 Komentar

To Top