Pemimpin yang Menipu Rakyat maka Allah akan Haramkan Surga

Pemimpin yang Menipu Rakyat maka Allah akan Haramkan Surga

Pemimpin yang Menipu Rakyat maka Allah akan Haramkan Surga


وَعَنْ مَعْقِلِ بْنِ يَسَارٍ - رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ - قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - يَقُولُ: «مَا مِنْ عَبْدٍ يَسْتَرْعِيهِ اللَّهُ رَعِيَّةً يَمُوتُ يَوْمَ يَمُوتُ وَهُوَ غَاشٌّ لِرَعِيَّتِهِ إلَّا حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ» مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.


1390. Dari Ma'qal bin Yasar Radhiyallahu Anhu berkata, "Aku mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, "Tidaklah seorang hamba yang Allah percayakan ia untuk memimpin rakyat lalu ia mati dalam keadaan menipu rakyatnya melainkan Allah haramkan surga untuknya." (Muttafaq Alaih)
[shahih: Al Bukhari 7151 dan Muslim 142]
ـــــــــــــــــــــــــــــ
[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

"Dari Ma'qal bin Yasar Radhiyallahu Anhu berkata, "Aku mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, "Tidaklah seorang hamba yang Allah percayakan ia untuk memimpin rakyat lalu ia mati dalam keadaan menipu rakyatnya melainkan Allah haramkan surga untuknya." Muttafaq Alaihi. (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dari riwayat Al-Hasan)

Tafsir Hadits

Pada hadits ini tertera sebuah kisah bahwa Ubaidullah bin Ziyad pergi menjenguk Ma'qal bin Yasar yang sedang sakit yang menyebabkan kematiannya. Saat itu Ubaidullah memangku jabatan sebagai gubemur di wilayah Bashrah pada masa pemerintahan Mu'awiyah dan anaknya Yazid.

Dalam kitabnya Al-Kabiir, Ath-Thabrani meriwayatkan jalur lain dari Al-Hasan, ia berkata, "Ubaidullah bin Ziyad datang ke daerah kami sebagai gubernur yang baru saja diangkat oleh Mu'awiyah. Ia seorang diktator yang banyak menumpahkan darah. Di antara kami ada Ma'qal Al-Muzani. Suatu hari Ma'qal mendatangi Ubaidullah dan berkata, "Jangan kamu lakukan lagi perbuatan yang pernah aku lihat." Ubaidullah berkata, "Memang apa urusanmu?" Lantas Ubaidullah pergi ke masjid lalu kami berkata kepada Ma'qal, "Bagaimana tanggapan anda tentang ucapan si diktator itu di hadapan orang banyak?" Ma'qal berkata, "Sebenarnya aku memiliki satu ilmu yang ingin aku sampaikan di hadapan orang banyak sebelum aku meninggal." Ketika Ma'qal sakit, datanglah Ubaidullah menjenguknya dan pada kesempatan itu Ma'qal bin Yasar berkata kepadanya, "Sesungguhnya aku akan mengabarkan kepadamu sebuah hadits yang pernah aku dengar dari Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, beliau bersabda,

«مَا مِنْ عَبْدٍ يَسْتَرْعِيه اللَّهُ رَعِيَّةً فَلَمْ يَحُطْهَا بِنَصِيحَةٍ لَمْ يَرِحْ رَائِحَةَ الْجَنَّةِ»

"Tidaklah seorang hamba yang Allah percayakan ia untuk memimpin rakyat akan tetapi ia tidak pernah memberikan nasehat kepada rakyatnya melainkan ia tidak akan pernah mencium aroma surga."" Lafazh yang dibawakan oleh penulis (Al-Hafizh Ibnu Hajar) adalah salah satu lafazh yang diriwayatkan oleh Muslim. Muslim juga meriwayatkan dengan lafazh:

«مَا مِنْ أَمِيرٍ يَلِي أَمْرَ الْمُسْلِمِينَ لَا يَجْتَهِدُ مَعَهُمْ وَلَا يَنْصَحُ لَهُمْ إلَّا لَمْ يَدْخُلْ مَعَهُمْ الْجَنَّةَ»

"Tidaklah seorang pemimpin yang mengurusi urusan kaum muslimin akan tetapi ia tidak berusaha untuk meluruskan mereka dan menasehati mereka melainkan ia tidak akan masuk surga bersama mereka.” Ath-Thabrani juga meriwayatkan lafazh ini, akan tetapi ada tambahan:

كَنُصْحِهِ لِنَفْسِهِ

"Seperti ia menasehati dirinya sendiri."
Diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dengan sanad yang hasan, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

«مَا مِنْ إمَامٍ وَلَا وَالٍ بَاتَ لَيْلَةً سَوْدَاءَ غَاشًّا لِرَعِيَّتِهِ إلَّا حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَعُرْفُهَا يُوجَدُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ مَسِيرَةِ سَبْعِينَ عَامًا»

"Tidak ada seorang pemimpin pun yang melewati satu malam yang kelam dalam keadaan menipu rakyatnya melainkan Allah akan mengharamkan baginya surga, padahal di hari kiamat nanti aroma surga itu sudah bisa tercium sejauh tujuh puluh tahun perjalanan.” [dha'if, Dha'if Al-Jami' (5149)]

Al-Hakim meriwayatkan sebuah hadits yang ia shahihkan dari Abu Bakar Radhiyallahu Anhu bahwasanya Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

«مَنْ وُلِّيَ مِنْ أَمْرِ الْمُسْلِمِينَ شَيْئًا فَأَمَّرَ عَلَيْهِمْ أَحَدًا مُحَابَاةً فَعَلَيْهِ لَعْنَةُ اللَّهِ لَا يَقْبَلُ اللَّهُ مِنْهُ صَرْفًا وَلَا عَدْلًا حَتَّى يُدْخِلَهُ جَهَنَّمَ»

"Barangsiapa yang'memegang tampuk kepemimpinan kaum muslimin, lantas ia mengangkat seseorang untuk memimpin mereka hanya karena alasan ia menyukainya maka pemimpin ini akan mendapat kutukan dari Allah dan tidak akan diterima amalan apapun darinya hingga ia dimasukkan ke dalam neraka jahannam.”

Diriwayatkan oleh Ahmad dan Al-Hakim dan ia menshahihkannya dari hadits Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhuma, ia berkata, "Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah bersabda,

«مَنْ اسْتَعْمَلَ رَجُلًا عَلَى عِصَابَةٍ، وَفِيهِمْ مَنْ هُوَ أَرْضَى اللَّهُ عَنْهُ فَقَدْ خَانَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ، وَالْمُؤْمِنِينَ»

"Barangsiapa yang mengangkat seorang pemimpin untuk kaum muslimin karena sikap ta'ashub (fanatik) padahal di tengah-tengah mereka ada orang yang lebih diridhai Allah, berarti ia telah mengkhianati Allah, rasul-Nya dan seluruh orang-orang mukmin.” [Dhaif: Dhaif Al Jami' 5401]
Di dalam sanad ini terdapat seorang perawi yang dha'if, hanya saja Ibnu Numair mendha'ifkannya dan hadits-haditsnya dihasankan oleh At-Tirmidzi.

Raa'i artinya pengurus yang mengurusi kemaslahatan apa yang diurus. Sabda beliau (pada hari kematiannya) maksudnya ketika meninggal dunia, ia sedang menipu rakyatnya dan belum sempat bertaubat kepada Allah. Ghisysyu dengan mengkasrahkan huruf ghain, artinya menipu, lawan dari nasehat. Ghisy ini akan terbukti jika mereka menzhalimi dan mengambil harta rakyat, menumpahkan darah mereka, mencoreng kehormatan mereka, tidak peduli akan kebutuhan mereka, tidak memberi mereka subsidi dari harta yang telah diberikan Allah, tidak membimbing mereka untuk mengetahui urusan agama dan dunia mereka, tidak menerapkan hukum islam, tidak memberantas pelaku kerusakan, tidak menegakkan jihad dan urusan-urusan lain yang mengandung kemaslahatan bagi masyarakat.

Hukum ini juga mencakup pengangkatan seorang yang tidak mampu mengurus dan mengawasi mereka dalam menjalankan perintah Allah. Dan termasuk juga mengangkat seseorang, padahal di antara mereka ada yang lebih ridhai oleh Allah.

Hadits di atas menunjukkan haramnya melakukan penipuan dan ini termasuk salah satu perbuatan dosa besar, karena adanya ancaman yang ditujukan kepada pelakunya. Demikian juga ancaman tidak dimasukan ke dalam surga merupakan ancaman yang sering ditujukan kepada orang-orang kafir. Sebagaimana firman Allah Ta'ala:

{فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ}

"Maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga..." (QS. Al-Maaidah: 72)
Pendapat inilah yang dipegang oleh kelompok yang mengatakan bahwa pelaku dosa besar akan dimasukkan ke dalam neraka dan kekal selamanya. Adapun kelompok yang tidak berpendapat pelaku dosa besar akan kekal di neraka, mereka mengatakan bahwa arti diharamkan surga untuk mereka maksudnya sebagai celaan yang keras. Ibnu Baththal berkata, "Ancaman keras ini ditujukan kepada para pemimpin yang zhalim dan untuk mereka yang menyia-nyiakan masyarakat yang telah diamanahkan Allah kepadanya, atau mengkhianati dan menzhalimi mereka. Di hari kiamat kelak, ia harus membayar seluruh perbuatan zhalim yang pernah ia lakukan semasa di dunia. Tentu tidak mungkin ia mampu menebus kezhaliman yang pernah ia lakukan kepada ummat manusia yang demikian banyak.

Makna, "Allah mengharamkan baginya surga" adalah Allah benar-benar akan melaksanakan ancamannya dan Dia tidak akan pernah ridha terhadap kezhaliman yang dilakukan oleh orang-orang yang zhalim

Subulussalam Syarh Bulughul Maram

Posting Komentar

0 Komentar

To Top