3 Cara Menentukan Batas Waktu Sholat Dhuha

3 Cara Menentukan Batas Waktu Sholat Dhuha

Sholat dhuha termasuk salah satu sholat sunnah yang memiliki banyak keutamaan. Nah, jika ingin melaksanakan sholat sunnah yang satu ini, maka Parents perlu memerhatikan beberapa tuntunannya, termasuk perkara waktu. Lantas, seperti apa batas waktu sholat dhuha?

Batas Waktu Sholat Dhuha Berdasarkan Hadist

Barangkali sudah diketahui secara luas bahwa sholat dhuha biasa dikerjakan saat pagi hari. Namun nyatanya, tidak sepanjang waktu pagi dibolehkan untuk menunaikan shalat sunnah tersebut.

Menurut Syekh Hasan bin ‘Ammar, salah satu ulama mazhab Hanafi, dalam kitab Maraqil Falah, yang dikutip dari laman NU Online, dhuha itu sendiri adalah nama waktu yang diawali dengan naiknya matahari hingga sebelum tergelincir.

Pandangan tersebut diperkuat oleh Syekh Muhammad bin Abdullah Al-Kharasyi Al-Maliki, ia berkata:

“Sungguh, waktu antara terbit matahari hingga tergelincir terbagi tiga. Pertama, waktu dhahwah. Waktu itu terjadi pada saat terbit. Kedua, waktu dhuha yang dibatasi dengan naiknya matahari. Ketiga, waktu dhaha. Waktu itu (dimulai dari habis waktu dhuha) hingga tergelincir matahari.

Dengan demikian, yang dimaksud waktu yang dinisbahkan pada shalat dhuha adalah waktu di mana naiknya matahari. Naiknya matahari itulah yang menjadi batasnya." (Lihat Al-Kharasyi, Syarh Mukhtashar Khalil, Beirut, Darul Fikr, jilid II, halaman 4).

Pendek kata, waktu dhuha bukanlah waktu terbitnya matahari, melainkan setelah matahari melewati ketinggian satu tumbak hingga waktu istiwa (matahari tepat berada di atas langit).

3 Cara Menentukan Batas Waktu Sholat Dhuha

1. Mengamati Ketinggian Matahari

Dalam kitab Al-Fiqhul Muyassar fi Dhauil Kitab was Sunah dan juga kitab Al-Fiqhul Islami wa Adillatuhu karya Az-Zuhaily disebutkan, jika satu tumbak dikonversi ke waktu maka kira-kira selama seperempat sampai sepertiga jam, atau 15-20 menit sejak matahari terbit. Masih menurut kitab tersebut, satu tumbak berarti satu meter dalam pengamatan mata telanjang.

2. Berpatokan pada Jadwal Imsakiyah, Mudah Cara Mengetahui Batas Waktu Sholat Dhuha

Menggunakan ukuran satu tumbak sebagai patokan waktu sholat dhuha mungkin terasa cukup sulit, terlebih bagi orang awam. Tapi tenang saja, Parents tidak perlu bersusah payah memperkirakan ketinggian matahari. Pasalnya, waktu dhuha dapat diketahui dengan mengacu pada jadwal imsakiah yang dikeluarkan oleh beberapa lembaga terpercaya, seperti Kemenag RI, MUI, Lembaga Falakiyah NU, atau pada jadwal imsakiyah yang tersedia dalam aplikasi mobile.

Jadwal imsakiyah biasanya sudah mencantumkan waktu syuruq atau waktu terbit matahari. Jadi, jika ingin mengetahui kapan waktu sholat dhuha maka waktu syuruq tersebut ditambah 15-20 menit.

Misalnya, jika waktu syuruq (terbit) adalah pukul 06.00, maka waktu dhuhanya adalah pukul 06:20.

Demikian pula jika hendak menentukan waktu akhir sholat dhuha, yaitu sekitar 15-20 menit sebelum masuk waktu sholat dzuhur.

3. Melihat Bayangan Benda

Cara selanjutnya yang bisa digunakan untuk menentukan waktu sholat dhuha adalah dengan melihat bayangan suatu benda. Jika panjang bayangan sudah sama dengan tinggi bendanya, maka itu artinya sudah waktu dhuha, hal ini sebagaimana yang disebutkan dalam hadits ‘Abasah. Namun kelemahannya, cara ini sangat bergantung pada cuaca dan kondisi matahari.

2 Waktu yang Dilarang untuk Melaksanakan Dhuha

1. Sesudah Subuh Hingga Terbit Matahari

Waktu pertama yang diharamkan untuk melaksanakan shalat dhuha adalah ketika sesudah subuh hingga matahari terbit. Larangan ini berdasarkan hadits dari Ibnu Umar, ia berkata:

“Rasulullah bersabda, ‘Apabila sinar matahari terbit maka akhirkanlah (jangan melakukan) shalat hingga matahari tinggi. Dan apabila sinar matahari terbenam, maka akhirkanlah (jangan melakukan) shalat hingga matahari terbenam’.” (HR. Bukhari)

2. Memasuki Waktu Dzuhur Hingga Tergelincir Matahari

Selanjutnya waktu kedua yang diharamkan untuk melakukan shalat dhuha adalah ketika memasuki dzuhur hingga tergelincirnya matahari, yaitu sekitar 15-20 menit sebelum masuk waktu sholat dzuhur.

“Matahari terbit dengan diikuti setan. Pada waktu mulai terbit, matahari berada dekat dengan setan, dan ketika telah mulai meninggi berpisah darinya. Pada waktu matahari berada tepat di tengah-tengah langit, ia kembali dekat dengan setan, dan ketika telah zawal (condong ke arah barat) ia berpisah darinya. Pada waktu hampir terbenam, ia dekat dengan setan, dan setelah terbenam ia berpisah lagi darinya.” (HR. Nasa’i)

Posting Komentar

0 Komentar

To Top